Ilustrasi konstruksi. (Foto: Dok.Magnific)

Beranda / Ekonomi / Lonjakan Kredit Konstruksi belum Diikuti Penguatan Manufaktur

Lonjakan Kredit Konstruksi belum Diikuti Penguatan Manufaktur

PravadaNews – Kenaikan kredit konstruksi di tengah suku bunga tinggi belum sepenuhnya diikuti investasi dan penguatan manufaktur nasional.

NEXT Indonesia Center mencatat konstruksi menjadi sektor dengan pertumbuhan kredit tertinggi per April 2026. Sektor ini mencatat kenaikan paling besar dibanding sektor usaha lain.

Lebih lanjut, laporan NEXT Indonesia menunjukkan kredit konstruksi tumbuh jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

“Kreditnya melonjak 45,54% yoy pada April 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,99% yoy pada April 2025,” tulis NEXT Indonesia dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (28/6/2026).

Adapun posisi kredit konstruksi naik dari Rp392 triliun menjadi Rp571 triliun dalam setahun. NEXT Indonesia menilai pembiayaan ke konstruksi kembali kuat setelah sebelumnya relatif stagnan.

Selanjutnya, pertumbuhan kredit konstruksi belum sejalan dengan realisasi investasi sektor tersebut. NEXT Indonesia mencatat investasi konstruksi turun dari Rp10,1 triliun menjadi Rp9,9 triliun per Maret 2026.

Di sisi lain, laporan NEXT Indonesia menjelaskan lonjakan kredit konstruksi tidak selalu menunjukkan investasi baru.

“Lonjakan kredit konstruksi tidak selalu berarti ada ledakan investasi baru pada periode yang sama,” tulis NEXT Indonesia.

Selain itu, NEXT Indonesia menyebut kenaikan kredit dapat terkait proyek berjalan, penyelesaian konstruksi, pembiayaan kontraktor, atau aktivitas turunan properti dan infrastruktur. Hal ini menunjukkan kredit konstruksi bergerak pada kebutuhan proyek berjalan dan aktivitas pendukungnya.

Pada saat yang sama, suku bunga tinggi membuat pembiayaan proyek perlu lebih terarah pada kegiatan produktif. Keterkaitan kredit konstruksi dengan hilirisasi menjadi penting ketika investasi sektor tersebut belum ikut menguat.

Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Huzni Mubarok menilai, kebijakan suku bunga tidak cukup berdiri sendiri. Huzni menyebut perbaikan struktur ekonomi tetap dibutuhkan agar hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan awal.

Di sisi lain, Huzni menyoroti persoalan industri yang masih bertumpu pada barang mentah dan belum ditopang manufaktur kuat.

“Sektor industri kita itu memang tergantung beberapa sektor. Kita itu hanya membeli barang-barang mentah, sektor manufaktur tidak berkembang,” kata Huzni.

Selanjutnya, Huzni menilai ekosistem usaha perlu diperbaiki agar pelaku industri tetap bertahan dan mau memperluas produksi. Tekanan bunga, industri turunan yang belum kuat, dan lemahnya manufaktur dapat membuat perusahaan menahan ekspansi atau keluar dari pasar.

Seperti diketahui, kredit konstruksi yang naik tinggi perlu dimbangi dengan investasi, suku bunga, dan arah hilirisasi. Tantangan kebijakan berada pada kemampuan menghubungkan pembiayaan proyek dengan ekosistem usaha.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *