PravadaNews – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat bahwa industri manufaktur alami tantangan lebih kuat pada Juni 2026.
Hal itu terlihat dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 52,90 pada Juni lalu, melambat 0,66 poin dibandingkan pada bulan sebelumnya.
“Industri manufaktur nasional pada Juni menghadapi tantangan yang lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis (2/7/2026).
Febri mengatakan, industri dalam negeri menghadapi tantangan dari dua faktor di antaranya produksi dan permintaan.
“Tantangan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan,” jelas Febri.
Meski hadapi tantangan dari dinamika global dan domestik, kinerja sektor manufaktur tetap ekspansi pada bulan Juni 2026.
“Meski demikian, sektor industri tetap menujukkan resiliensi yang kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional masih tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026,” kata Febri.
Sebelumnya, Ancaman badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semakin nyata dengan adanya kabar dua perusahaan otomotif asal Jepang akan pindah dari Indonesia ke Vietnam.
Kabar tersebut disampaikan Penasihat Presiden RI Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal usai menghadiri acara Rapat Kerja Nasional Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) 2026 di The Acacia Hotel, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
“PHK juga terjadi kemungkinan besar di dua perusahaan otomotif di Jawa Timur,” jelas Said Iqbal.
Said Iqbal mengungkapkan inisial perusahaan otomotif yang akan pindah ke Vietnam yakni PT J dan PT S. Said Iqbal belum dapat memberikan informasi nama perusahaan karena serikat pekerja sedang melakukan negosiasi dengan perusahaan.
“Sudah hampir setahun negosiasi itu,” kata Said Iqbal.
Ketua Umum Partai Buruh itu mengungkapkan, PT J memiliki karyawan kurang lebih sebanyak 7.000 pekerja. Sementara PT S memiliki karyawan sebanyak 4.000 pekerja.
Said Iqbal mengatakan, jika terjadi pemindahan, maka ada potensi terjadi PHK sebanyak 3.000 buruh. “3.000 (pekerja terancam PHK) omong-omongnya. Tapi mungkin di ribuan lah angkanya. Memang agak besar,” kata Said Iqbal.
Namun, kabar PHK tersebut dibantah Kemenperin. Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita pada Minggu, 21 Juni 2026, telah memerintahkan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Dirjen ILMATE) untuk melakukan penelusuran atas informasi tersebut.
“Pada hari Minggu sore tanggal 21 Juni 2026, Bapak Menteri Perindustrian telah memerintahkan Dirjen ILMATE untuk menelusuri kebenaran informasi relokasi perusahaan industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam,” kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Hasil penelusuran yang dilakukan Dirjen ILMATE:
Pertama, PT. J dan PT S. atau PT JAI dan PT SAI sama-sama berlokasi di provinsi Jawa Timur, di mana PT. JAI berlokasi di Kabupaten Pasuruan dan PT. SAI berlokasi di Kabupaten Mojokerto. Kedua perusahaan tersebut juga tercatat aktif menyampaikan laporan kegiatan industri melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) secara rutin sesuai ketentuan yang berlaku pada Permenperin 13 Tahun 2025.
Kedua, Kemenperin mendapatkan konfirmasi dari pihak perusahaan bahwa dua perusahaan industri PT. JAI dan PT. SAI yang muncul dalam pemberitaan relokasi fasilitas produksi dari Indonesia ke Vietnam dan PHK patut diduga memang kedua perusahaan tersebut.
Ketiga, fasilitas produksi PT. JAI dan PT SAI masih beroperasi secara normal di Indonesia dan tetap menjalankan kegiatan produksi sebagaimana biasanya. Belum ada rencana relokasi fasilitas produksi dua perusahaan industri tersebut dari Indonesia ke Vietnam. Begitu juga dengan isu PHK, pihak perusahaan juga menyatakan bahwa tidak ada pengurangan tenaga kerja ataupun PHK pada fasilitas produksi mereka.















