PravadaNews – Surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2026 memperlihatkan pentingnya melihat arus ekspor-impor energi secara objektif, termasuk hubungan gas dengan Singapura.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Azhar Syahida, menjelaskan surplus dagang terjadi saat ekspor lebih tinggi dibandingkan impor. Indikator itu menjadi pijakan untuk melihat posisi perdagangan Indonesia.
“Sepanjang Januari-April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD92,15 miliar atau naik 5,48 persen tahunan. Sementara nilai impor Indonesia pada periode yang sama mencapai USD86,51 miliar, atau naik 13,4 persen tahunan,” tulis Azhar dalam pernyataan kepada PravadaNews, dikutip Kamis (2/7/2026).
Lebih lanjut, Azhar mencatat surplus perdagangan Indonesia mencapai USD5,64 miliar sepanjang Januari-April 2026. Nilai itu menjadi capaian neraca dagang dalam empat bulan pertama.
Adapun Azhar menyebut bahan bakar mineral menjadi salah satu komoditas strategis pendorong surplus perdagangan. Komoditas itu menjadi bagian dari ekspor energi pada periode tersebut.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Praktisi Hukum Migas dan Energi Terbarukan (APHMET), Didik Sasono, menyoroti hubungan energi Indonesia-Singapura. Didik menjelaskan impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura berkaitan dengan hubungan gas Indonesia.
Di sisi lain, Didik menyebut Singapura menjadi negara terbesar asal impor BBM Indonesia pada 2017-2024. Posisi itu perlu dilihat bersama hubungan gas Indonesia-Singapura.
“Dari data Badan Pusat Statistik yang kita lihat, untuk periode 2017 sampai 2024, negara asal impor BBM kita cukup menarik. Negara terbesar asal impor BBM Indonesia adalah Singapura,” kata Didik.
Selanjutnya, Didik menyinggung ekspor gas Indonesia ke Singapura yang kerap dipisahkan dari impor BBM. Menurut Didik, arus energi kedua negara saling berkaitan dalam tata kelola hubungan internasional.
“Namun, kita lupa bahwa BBM kita juga banyak diimpor dari Singapura. Jadi, apabila gas kita tidak dijual ke Singapura, Singapura juga bisa menghentikan ekspor BBM ke Indonesia,” kata Didik.
Hubungan dua arah itu membuat kerja sama energi antarnegara perlu berbasis data. “Inilah pentingnya melihat pergaulan internasional secara objektif dan komprehensif. Kita tidak bisa melihatnya secara emosional, apalagi miskin data,” kata Didik.
Seperti diketahui, neraca perdagangan mencatat arus ekspor dan impor, termasuk komoditas energi yang terkait pasokan nasional. Objektivitas diperlukan agar arus energi tidak dilihat dari satu sisi hubungan dagang.















