Ilustrasi kegiatan ekspor dan impor. (Foto: Dok. Kementerian Keuangan)

Beranda / Ekonomi / Ekspor Komoditas belum Jawab Industrialisasi

Ekspor Komoditas belum Jawab Industrialisasi

PravadaNews – Ekspor komoditas menjadi catatan dalam industrialisasi Indonesia ketika industri pengolahan masih bertumpu pada sawit, nikel, dan turunannya.

Kementerian Perdagangan mencatat ekspor Indonesia pada Januari–Mei 2026 mencapai USD115,36 miliar atau tumbuh 3,02 persen. Lebih lanjut, ekspor nonminyak dan gas bumi (nonmigas) naik 3,89 persen menjadi USD110,19 miliar. 

Adapun Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut perdagangan nonmigas masih menjadi fondasi utama perdagangan luar negeri.

“Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 defisit, namun secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus,” kata Budi, Kamis (2/7/2026).

Selanjutnya, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–Mei 2026 masih surplus USD4,03 miliar meski Mei 2026 defisit. Surplus kumulatif itu ditopang perdagangan nonmigas sebesar USD16,31 miliar yang mengimbangi defisit migas USD12,28 miliar.

Di sisi lain, Kemendag mencatat ekspor sektor industri pengolahan tumbuh 6,80 persen secara kumulatif pada Januari–Mei 2026. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari aluminium dan barang daripadanya, nikel dan barang daripadanya, serta bahan kimia organik.

Kemudian, nikel dan barang daripadanya tumbuh 60,88 persen, sementara aluminium dan barang daripadanya naik 64,33 persen. Kemendag menyebut kenaikan itu didukung membaiknya harga komoditas di pasar internasional dan meningkatnya permintaan global.

Lebih jauh, Budi menyampaikan arah kebijakan ekspor tetap diarahkan pada perluasan pasar dan peningkatan nilai tambah produk nasional. 

“Ke depan, pemerintah akan terus memperluas akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk nasional agar kinerja ekspor tetap terjaga,” ucap Budi.

Selain itu, struktur ekspor Indonesia pada Januari–Mei 2026 didominasi industri pengolahan dengan pangsa 82,02 persen. Pada periode sama, sektor pertanian turun 24,95 persen, migas turun 12,71 persen, serta pertambangan dan lainnya turun 8,14 persen.

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudistira, memberi catatan terhadap pembacaan industri pengolahan. Bhima menilai kinerja industri pengolahan Indonesia masih terlihat besar karena ditopang sawit dan nikel.

Lebih lanjut, Bhima menyebut sawit dan nikel perlu dikeluarkan dari hitungan untuk melihat kekuatan industri pengolahan sebenarnya.

“Kalau sawit dan nikel dikeluarkan, baru terlihat kekuatan industri pengolahan Indonesia yang sebenarnya,” kata Bhima, dikutip Senin (6/7).

Seperti diketahui, data mencatat industri pengolahan menjadi sektor terbesar dalam struktur ekspor Indonesia pada Januari–Mei 2026. Sedangkan sawit dan nikel menjadi bagian penting dalam industri pengolahan di luar komoditas.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *