PravdaNews – Serangkaian serangan terbaru dilakukan Amerika Serikat terhadap beberapa wilayah Iran, membuat secara tegas Teheran menolak campur tangan Washington dalam pengelolaan Selat Hormuz.
Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran Khatam al-Anbiya menyatakan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan memberikan tanggapan tegas terhadap tindakan Amerika Serikat yang disebut sebagai agresi.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangkaian tindakan militer Amerika Serikat menargetkan wilayah selatan Iran. Pelanggaran tersebut mengutip beberapa ledakan yang terdengar di dekat Kabupaten Sirik dan Pulau Qeshm di Provinsi Hormozgan, Iran selatan.
Khatam al-Anbiya mengatakan jalur aman bagi kapal komersial dan kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz berada dalam pengaturan yang ditetapkan Republik Islam Iran. Secara tegas Washington tidak akan diizinkan ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz.
“Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan memberikan tanggapan tegas terhadap agresi dan tindakan teroris Amerika Serikat serta dalam keadaan apa pun tidak akan membiarkan mereka ikut campur dalam urusan Selat Hormuz dan mengelolanya,” pernyataan Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran Khatam al-Anbiya, melansir kantor berita Tasnim, Rabu (8/7/2026).
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyampaikan respons setelah serangan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran. IRGC menyebut operasi rudal dan drone dilakukan sebagai tanggapan awal terhadap tindakan militer Washington.
Selanjutnya, IRGC menyatakan serangan tersebut menargetkan 85 fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Sasaran mencakup Port Salman di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
“Sebagai respons awal terhadap agresi ini, pasukan angkatan laut dan udara Korps Garda Revolusi Islam, dalam operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 lokasi fasilitas militer AS yang penting di Pelabuhan Salman, wilayah Armada Kelima AS di Bahrain, dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait,” pernyataan IRGC, Rabu (8/7).
Sebelumnya, Amerika Serikat menjelaskan alasan operasi militernya melalui Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dimana serangan terbaru dilakukan sebagai respons terhadap dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal di Selat Hormuz.
CENTCOM sendiri sudah menyelesaikan gelombang serangan baru terhadap Iran dengan menghantam lebih dari 80 target menggunakan amunisi presisi. Operasi menargetkan kemampuan militer Iran yang dianggap berkaitan dengan keamanan maritim di kawasan Selat Hormuz.















