PravadaNews – Rusia mengaitkan pencabutan kebijakan nuklir Finlandia dengan daftar target militernya yang memunculkan risiko baru di kawasan Eropa Utara.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev merespons perubahan aturan Finlandia setelah Helsinki membuka ruang penampungan senjata nuklir. Lebih lanjut, ia menyebut keputusan itu mengubah posisi keamanan Finlandia di hadapan Rusia.
“Finlandia telah mencabut larangan untuk menampung senjata nuklir. Apa perubahannya bagi Finlandia?” kata Medvedev di X melansir Kantor Berita TASS, dikutip Sabtu (4/7/2026).
Adapun Medvedev menilai pencabutan larangan tersebut membawa konsekuensi terhadap kalkulasi nuklir Rusia. “Hanya satu hal kecil: negara mereka sekarang ada dalam daftar target nuklir Rusia,” ujar Medvedev.
Selanjutnya, pernyataan Rusia muncul setelah Parlemen Finlandia menyetujui rancangan undang-undang. Aturan itu membuka jalan bagi impor senjata nuklir setelah larangan lama dicabut.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Finlandia Antti Häkkänen menyebut amandemen Undang-Undang Energi Nuklir sebagai reformasi keamanan. Ia menempatkan perubahan tersebut dalam kerangka penguatan pertahanan Finlandia dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
“Parlemen menyetujui amandemen Undang-Undang Energi Nuklir dengan mayoritas kuat 2/3. Reformasi bersejarah ini memperkuat keamanan Finlandia dan NATO secara keseluruhan,” tulis Häkkänen di X, Rabu (17/7).
Di sisi lain, aturan baru memungkinkan Finlandia menerima, mengangkut, dan memfasilitasi pergerakan senjata nuklir di wilayahnya. Kebijakan itu berlaku dalam operasi pertahanan sekutu, bukan penempatan permanen senjata nuklir.
Kemudian, Häkkänen menegaskan Finlandia tidak memiliki rencana menempatkan senjata nuklir secara permanen di wilayah negaranya. Penegasan itu mengikuti perubahan hukum yang sebelumnya membatasi ruang gerak nuklir Finlandia.
Selain itu, kebijakan tersebut berjalan setelah Finlandia bergabung dengan NATO pada 2023 dan berbatasan langsung dengan Rusia. Posisi perbatasan sepanjang lebih dari 1.300 kilometer membuat perubahan aturan nuklir Finlandia menjadi perhatian Moskow.















