PravadaNews – Pasokan nafta dari Amerika Serikat mulai masuk ke Indonesia setelah konflik Timur Tengah yang mengganggu bahan baku industri plastik. Namun, pemulihan di tingkat industri ini belum langsung menurunkan harga kemasan yang dibeli masyarakat.
Pemerintah sebelumnya mencari sumber pasokan dari Amerika Serikat, India, dan sejumlah negara Afrika untuk mengurangi ketergantungan terhadap Timur Tengah. Proses pengadaan telah berjalan sejak April 2026 ketika industri masih menggunakan persediaan yang tersedia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, sebagian besar nafta yang sudah masuk ke Indonesia kini berasal dari Amerika Serikat.
“Dahulu, impor nafta sebagian besar berasal dari Timur Tengah. Namun, karena dampak perang, sekarang impor paling banyak berasal dari Amerika Serikat,” kata Budi saat ditemui di Transtudio Mal Cibubur, Kamis (9/7/2026) lalu.
Sebagai informasi, nafta digunakan industri petrokimia untuk menghasilkan bahan yang kemudian diolah menjadi biji plastik. Bahan tersebut selanjutnya diproses industri hilir menjadi kemasan dan berbagai produk plastik jadi.
Menurut Budi, masuknya nafta membuat pasokan bagi industri penghasil biji plastik mulai membaik. Kekurangan bahan baku juga dapat kembali dipenuhi dari Timur Tengah ketika pasokannya tersedia.
Meski demikian, Kementerian Perdagangan (Kemendag) belum menyampaikan volume, nilai impor, perusahaan penerima, maupun jumlah pasokan dari setiap negara.
“Kalau nilainya, saya belum mengecek dan belum menanyakannya kepada industri. Namun, yang jelas, pasokannya sudah mulai banyak masuk,” jelas mantan kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei itu.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) produk kemasan plastik juga tercatat sebesar 101,18 pada Januari 2026. Angka itu meningkat menjadi 134,20 pada Mei 2026 atau naik sekitar 32,6% dalam lima bulan.
Indeks itu menggambarkan perubahan harga pada tingkat perdagangan besar dengan tahun dasar 2023. Namun, pergerakannya menunjukkan tekanan harga kemasan terjadi sebelum tambahan pasokan nafta masuk lebih banyak.
Di sisi lain, kenaikan harga masih dirasakan salah satu penjual es batu, Nanda (18), yang membeli plastik di kawasan Beji, Depok. Baginya, kenaikan itu bisa menambah biaya usahanya.
“Sekarang saya beli plastik ukuran sekilo harganya Rp6.000, padahal sebelumnya masih Rp5.000 per pack,” ungkap Nanda, Sabtu (11/7).
Adapun berdasarkan pantauan redaksi pada toko daring per 11 Juli 2026 menemukan plastik PE berukuran 15×30 sentimeter ditawarkan Rp7.999 oleh penjual di Depok dan Rp7.500 di Bekasi. Penjual di Jakarta Pusat menawarkan lima bungkus produk serupa seharga Rp47.500 atau sekitar Rp9.500 per bungkus.
Harga online itu tidak menjadi rata-rata wilayah karena merek, ketebalan, jumlah isi, hingga ongkos kirim dapat berbeda. Namun, rentang penawaran dan pembelian warga menggambarkan pemulihan pasokan nafta belum langsung diikuti penurunan harga plastik eceran















