PravadaNews – Di tengah upaya memperluas akses layanan kesehatan yang merata, kerja sama Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.
Melalui program operasi katarak gratis, kedua negara tidak hanya membuka akses pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat hubungan kerja sama di bidang kesehatan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhaheri, menegaskan program tersebut tidak akan berhenti pada pelaksanaan di satu wilayah.
Kolaborasi operasi katarak gratis antara UEA dan Indonesia akan terus diperluas ke berbagai daerah agar semakin banyak masyarakat, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, dapat memperoleh penanganan secara cuma-cuma.
Program ini sekaligus menjadi bentuk nyata komitmen UEA dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat Indonesia.
Lebih dari sekadar tindakan medis untuk mengembalikan penglihatan, operasi katarak gratis tersebut diharapkan dapat mengubah kembali kualitas hidup masyarakat.
Bagi pasien yang sebelumnya kesulitan melihat, kesembuhan dapat berarti kesempatan untuk kembali bekerja, beraktivitas secara mandiri, serta menjalani kehidupan sehari-hari tanpa bergantung kepada orang lain.
Karena itu, perluasan program menjadi langkah penting agar manfaat kerja sama kesehatan Indonesia dan UEA dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai penjuru Tanah Air.
“Ini proyek kedua setelah Kalimantan, dan bukan yang terakhir. Kolaborasi operasi katarak akan terus diperluas ke berbagai daerah di Indonesia,” kata Abdulla Salem Aldhaheri di Rumah Sakit Khusus Mata, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dikutip Sabtu (8/8/2026).
Abdulla mengatakan, UEA akan memperluas operasi katarak gratis ke berbagai wilayah Indonesia agar semakin banyak masyarakat memperoleh manfaat. Program tersebut mempertegas komitmen kemitraan kesehatan antara UEA dan Indonesia.
“Kami akan mencari area-area yang berbeda di mana kami bisa melakukan operasi seperti ini. Kami memiliki hubungan yang kuat dengan Republik Indonesia dan kami akan selalu berada di sisi masyarakat Indonesia,” ujar Abdulla.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono, menyebut jumlah kasus katarak di Indonesia mencapai sekitar 600 ribu. Menurutnya, angka tersebut merupakan kasus yang telah terdeteksi, sementara jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar.
“Jumlah penyakit katarak di Indonesia itu kurang lebih ada 600 ribu kasus. Angka itu masih data yang terdeteksi, sebenarnya jumlahnya jauh lebih banyak daripada itu,” kata Dante Saksono Harbuwono.















