PravadaNews – Pertumbuhan ekonomi akan sulit melebihi 5% jika sektor ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri.
“Pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari yang dicapai sekarang,” kata Ekonom Senior INDEF, Didik J Rachbini dalam keterangannya kepada PravadaNews, Kamis (13/8/2026).
Didik menilai, Indonesia sebagai negara besar tentunya pasar domestiknya menjadi sektor yang sangat penting. “Tetapi pasar domestik saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia,” kata Didik.
Didik menambahkan, agar pertumbuhan ekonomi bisa melebihi saat ini maka pemerintah perlu mendorong sektor luar negeri.
“Untuk menuju ke sana (pertumbuhan ekonomi lebih dar 5%) tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan orientasi ekspor,” kata Didik.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi RI tumbuh 3,73% jika dibandingkan pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 ini mencapat 5,29% secara (year-to-year/yoy).
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 bila dibandingkan triwulan II 2025 atau yoy tumbuh 5,29%,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisi Statistik BPS, Edy Mahmud di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 di atas 5%.
Airlangga menjelaskan, pertumbuhan tersebut ditopang dari paket insentif dan investasi yang masuk ke Indonesia.
“(Pertumbuhan ekonomi kuartal II) di atas 5% masih. Kuartal II masih terkait dengan investasi, terkait dengan beberapa insentif yang didorong oleh pemerintah,” jelas Airlangga.















