PravadaNews – Pabrik milik koperasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan akan mengolah Tandan Buah Segara (TBS) dari kebun anggota Koperasi Unit Daerah (KUD) Sejahtera. Hasil panen nantinya anak diproses menjadi minyak kepala sawit mentah sebelum dipasarkan ke industri.
KUD Sejahtera kini masuk ke dalam rantai usaha sawit. Sebelumnya, kegiatan koperasi lebih banyak bertumpu pada pengelolaan kebun.
Langkah serupa mulai disiapkan sejumlah koperasi di daerah penghasil sawit. KUD Sejahtera pun menjadi salah satu model pengembangan pengolahan sawit berbasis koperasi.
Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono mengatakan, pabrik pengolahan minyak kepala sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) tersebut diresmikan pada Rabu (12/8/2026) kemarin.
“Kemarin baru saja kami meresmikan pabrik CPO yang dimiliki oleh koperasi dan banyak koperasi-koperasi di seluruh Indonesia yang juga bergerak di dalam pengelolaan kebun-kebun sawit,” ujar Ferry di Kementerian Koperasi (Kemenkop), Kamis (13/8/2026).
Diketahui, pabrik KUD Sejahtera dibangun dengan investasi sekitar Rp100 miliar dengan kapasitas 45 ton TBS/jam. Sebagian besar kebutuhan bahan bakunya berasal dari kebun anggota koperasi.
KUD Sejahtera memiliki 1.536 anggota dengan luas kebun sekitar 3.074 hektare. Sekitar 76% pasokan pabrik berasal dari anggota, sedangkan sisanya dipenuhi petani sekitar.
Setelah diolah, CPO dijual kepada perusahaan pada tahap industri berikutnya. Salah satu mitra yang menyerap produksinya saat ini adalah Wilmar.
Model ini mulai diikuti koperasi lain di sejumlah sentra sawit. Sekitar 20 koperasi dan KUD telah mendaftar untuk membangun pabrik CPO serupa.
Selain itu, dua koperasi petani sawit telah mengajukan pembangunan pabrik melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi (LPDB Koperasi). Langkah tersebut memperluas rencana pengolahan hasil sawit melalui koperasi.
Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman menilai, pembangunan pabrik memperluas kegiatan koperasi dari pengelolaan kebun menuju pengolahan hasil perkebunan.
“Ini sekarang sudah expand keluar, artinya mereka bisa mengembangkan, bahkan mereka sudah membangun pabrik kelapa sawit,” ujar Dudung saat peresmian, dilansir dari laman resminya, Rabu (12/8).
Dudung menyoroti pembangunan pabrik perlu diikuti peningkatan kesejahteraan anggota koperasi. Karena itu, keberhasilan model tersebut akan terlihat dari manfaat ekonomi yang diterima petani setelah koperasi masuk ke tahap pengolahan CPO.















