PravadaNews – Pergerakan rupiah kembali berada dalam tekanan ketika perdagangan hari ini ditutup dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terkoreksi 0,36 persen atau 64 poin ke level Rp17.862 per dolar AS, menandai berlanjutnya tekanan terhadap mata uang Garuda di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di balik pergerakan angka tersebut, gejolak harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang turut membayangi pasar, setelah berakhirnya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran memunculkan kembali kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
“Trump bahkan mengancam akan membom negara Oman jika negara itu menghalangi AS. Tidak jelas apa yang mendasari Trump melontarkan ancaman itu,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Selasa (18/8/2026).
Sementara AS sendiri menyatakan tidak akan memperpanjang gencatan senjata. Iran pun mengisyaratkan tidak mau kembali ke meja perundingan dengan AS.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menembakkan rudal ke kapal militer Arab Saudi dan empat kapal pengawalnya. Sedangkan Oman menyatakan adanya pembicaraan terkait Selat Hormuz, yang meredakan kekhawatiran akan kendala pasokan minyak.
Ibrahim mencermati risiko inflasi akibat berlanjutnya kenaikan harga energi. Sehingga pelaku pasar masih memprediksi akan kenaikan suku bunga the Fed hingga akhir tahun ini.
“Pelaku pasar menantikan risalah rapat the Fed bulan Juli kemarin untuk mendapatkan kejelasan arah kebijakan the Fed. Risalah itu dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat,” ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati kenaikan harga minyak dan dampaknya ke anggaran negara untuk membiayai impor energi. “Lonjakan permintaan dolar AS untuk membeli minyak mentah di pasar global membuat dolar menguat dan menekan nilai tukar rupiah,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, BI hari ini merilis posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia untuk triwulan II 2026 sebesar USD453,4 miliar. ULN tumbuh 4,4 persen secara tahunan.
Selanjutnya, pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung tanggal 18-19 Agustus 2026. Rapat tersebut akan menyampaikan asesmen BI terhadap kondisi perekonomian global dan domestik, serta kebijakan suku bunga (BI Rate).
“BI diprakirakan akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April-Juni 2026,” ujar Ibrahim.















