PravadaNews – Strategi pemerintah membuat turis asing betah di Indonesia menghadapi tantangan ketika jumlah kunjungan meningkat, tetapi lama tinggal mereka justru memendek.
Sepanjang Januari-Juni 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta atau tumbuh 5,71% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pemerintah kemudian memperluas promosi ke pasar yang masih memiliki peluang pertumbuhan.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Pariwisata, Sabtu (8/8/2026), Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut strategi tersebut terus disesuaikan dengan perubahan pasar.
“Capaiannya tidak terjadi dengan sendirinya. Pemerintah terus menjalankan strategi yang adaptif, termasuk melakukan pivot atau penyesuaian pasar, memperkuat promosi ke negara-negara yang masih memiliki potensi pertumbuhan, menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri, serta mengembangkan produk dan destinasi yang semakin berkualitas,” jelas Widiyanti.
Strategi ini antara lain terlihat dari pertumbuhan wisatawan asal Asia Tenggara sebesar 8,22% sepanjang semester pertama. Sementara kunjungan dari kawasan Oseania tumbuh 6,60% pada periode yang sama.
Selain menambah kunjungan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) membidik manfaat ekonomi yang lebih besar dari setiap perjalanan wisatawan. Rata-rata pengeluaran wisman mencapai sekitar 1.313 dolar AS per kunjungan sepanjang semester I 2026.
“Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari besarnya manfaat ekonomi yang mereka tinggalkan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan daerah,” lanjut Menpar.
Adapun pengalaman wisata juga diperkuat melalui Karisma Event Nusantara (KEN) yang digelar di berbagai daerah. Hingga akhir Juli, sebanyak 61 dari 125 event dalam KEN 2026 telah berlangsung.
Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lama tinggal wisman belum mengikuti pertumbuhan jumlah kunjungan. Pada kuartal II 2026, rata-rata durasinya mencapai 10,30 malam dari 10,83 malam pada kuartal sebelumnya.
Meski waktu tinggal memendek, pola pengeluaran wisatawan mulai bergeser ke aktivitas selama perjalanan.
“Terjadi peningkatan proporsi jenis pengeluaran wisman pada hiburan, sewa kendaraan, dan juga penerbangan domestik,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers BPS, dikutip Selasa (11/8/),
Lebih lanjut, rata-rata pengeluaran wisman mencapai 1.285 dolar AS per kunjungan pada kuartal II 2026. Nilainya turun dibandingkan kuartal sebelumnya, tapi masih meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu.
Karena itu, strategi pariwisata diarahkan pada penguatan destinasi dan pengalaman wisata, bukan hanya menambah jumlah kedatangan. Langkah tersebut ditujukan agar aktivitas dan belanja wisatawan selama berada di Indonesia ikut meningkat.















