Pemerintah Indonesia memperkuat operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. (Foto: Dok. Kementerian Kehutanan)

Beranda / Politik / Langkah Luar Biasa Tangani Karhutla Kalimantan

Langkah Luar Biasa Tangani Karhutla Kalimantan

PravadaNews – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terus meluas ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut mendorong DPR meminta pemerintah mengambil langkah luar biasa untuk menahan penyebaran dampaknya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman menilai, karhutla kali ini harus menjadi perhatian nasional. Alex melihat persoalan tersebut tidak lagi sebatas masalah kebakaran lahan.

Kabut asap telah mengganggu aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah terdampak. Sekolah dasar dan SMP menunda jam masuk hingga pukul 08.00 WIB, sedangkan PAUD menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Penurunan kualitas lingkungan juga memengaruhi jarak pandang masyarakat. “Jarak pandang di sejumlah wilayah turun drastis hingga 1,4 kilometer,” kata Alex di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Alex mengaitkan kondisi tersebut dengan cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Nino. Menurutnya, puncak fenomena tersebut diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

Kondisi di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menjadi salah satu gambaran besarnya dampak karhutla. Pemerintah daerah bahkan memperpanjang status tanggap darurat hingga 4 September 2026.

Data yang disampaikan Alex mencatat kebakaran di Kobar telah menghanguskan 859,49 hektare lahan. Kebakaran tersebut berasal dari 189 kejadian dengan total 461 titik panas.

Kecamatan Arut Selatan menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas kebakaran tinggi. Wilayah tersebut mencatat 98 kejadian yang membakar 180,475 hektare lahan dan terdeteksi 226 titik panas.

Kecamatan Kumai juga menghadapi kebakaran dengan skala besar. Sebanyak 63 kejadian tercatat membakar 584,41 hektare lahan di wilayah tersebut.

Alex mengingatkan pemerintah terhadap pengalaman Indonesia ketika menghadapi El Nino 1997-1998. Saat itu, kebakaran disebut melanda lebih dari sembilan juta hektare lahan di Kalimantan.

“Ini tidak boleh berulang sekarang ini,” tegas Alex.

Alex menyebut pengalaman tersebut sebagai peringatan agar penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul.

Data MapBiomas Fire menunjukkan periode September-November menyumbang sekitar 61 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan. Oktober menjadi bulan dengan kecenderungan puncak kebakaran berdasarkan catatan tersebut.

Alex meminta pemerintah memperkuat deteksi dini dan patroli di kawasan rawan kebakaran. Ia juga mendorong peningkatan akurasi peringatan dini berbasis satelit serta memperbesar keterlibatan masyarakat.

Menurut Alex, pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendekatan berbasis masyarakat. “Mitigasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan membutuhkan pendekatan jangka panjang,” kata Alex.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *