PravadaNews – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati dampak Super El Nino terhadap industri Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Mikro (PVML), terutama pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang bergantung pada kondisi cuaca.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi aktivitas usaha yang menjadi penerima pembiayaan.
“Dampak fenomena Super El Nino terhadap industri PVML terus dicermati, termasuk pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan,” ungkap Agusman dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (7/9/2026).
Meski terdapat risiko akibat kondisi cuaca, Agusman menyebut kinerja pembiayaan pada sektor tersebut masih mencatatkan pertumbuhan positif hingga Juli 2026.
Diketahui, penyaluran pembiayaan multifinance sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 10,12% secara tahunan menjadi Rp42,51 triliun.
“Secara umum, kinerja pembiayaan pada sektor-sektor dimaksud pada Juli 2026 tetap tumbuh positif. Terlihat antara lain dari penyaluran pembiayaan multi-finance pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 10,12% year-on-year, menjadi sebesar Rp42,51 triliun,” jelas Regulator ini.
Selain itu, pembiayaan atau penyertaan modal ventura pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga tumbuh 10,49% secara tahunan menjadi Rp757,06 miliar.
Agusman menilai, penguatan manajemen risiko tetap diperlukan untuk menjaga kualitas pembiayaan di tengah risiko eksternal.
Adapun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi kering masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia akibat pengaruh El Nino kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Berdasarkan pemantauan citra satelit polar pada Rabu (2/9), titik panas berkepercayaan tinggi ditemukan di Kalimantan sebanyak 463 titik dan Sumatra sebanyak 264 titik.
Pada Dasarian I-III September 2026, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kondisi relatif kering dengan curah hujan 0–150 mm per dasarian.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh El Nino kategori sangat kuat dan IOD positif yang mengurangi suplai kelembapan menuju wilayah Indonesia.















