Salah seorang peternak ayam petelur di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Kiki (29 tahun) saat memberi pakan kepada ayam petelurnya. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Harga Pakan Naik Empat Kali saat Harga Telur Turun

Harga Pakan Naik Empat Kali saat Harga Telur Turun

PravadaNews – Peternak ayam petelur menghadapi tekanan ganda akibat harga telur yang terus turun di tengah kenaikan harga pakan. Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin membengkak dan memangkas keuntungan peternak.

Salah seorang peternak ayam petelur di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Kiki (29 tahun), mengatakan harga pakan mengalami kenaikan secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, harga jual telur justru masih berada di level rendah.

“Kalau untuk harga pakan, sebetulnya naik ya. Itu bulan kemarin per minggu itu naik Rp10.000. Itu sudah empat kali naik,” kata Kiki saat ditemui di peternakannya, Selasa (14/7/2026).

Baca Juga: Realisasi DMO Minyakita ke BUMN Capai 50%

Menurutnya, saat ini harga pakan telah mencapai sekitar Rp375.000-Rp390.000 per sak. Kenaikan tersebut menjadi beban terbesar bagi peternak karena pakan merupakan komponen utama dalam biaya produksi telur.

“Itu sudah empat kali naik. Kalau sekarang kan harga pakan itu di angka Rp375.000-Rp390.000,” ujarnya.

Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak justru masih bertahan di kisaran Rp21.000-Rp22.000 per kilogram. Padahal, harga normal yang diharapkan peternak berada di kisaran Rp27.000-Rp28.000 per kilogram.

Kiki berharap kenaikan harga pakan tidak terus berlanjut sehingga beban produksi peternak dapat berkurang. Ia juga berharap harga telur segera pulih agar usaha peternakan tetap berjalan.

“Ya mudah-mudahan telurnya naik, nanti harga pakannya juga stabil, nggak terlalu tinggi banget lah,” tuturnya.

Menurutnya, kestabilan harga telur dan pakan sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak. Sebab, hasil penjualan telur tidak hanya digunakan membeli pakan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan operasional lainnya.

“Jadi biaya kosnya juga kita masih ada buat makan, buat segala macam,” ucapnya.

Kiki menilai harga telur ideal seharusnya berada di kisaran Rp26.000-Rp27.000 per kilogram. Dengan harga tersebut, peternak masih memiliki ruang untuk menutup kenaikan biaya produksi.

“Cuman kan karena nanti kita ngerinya untuk biaya pakan dan biaya produksinya lebih tinggi lagi, jadi kita harapkan pemerintah menetapkannya di angka Rp26.000 lah, Rp26.000-Rp27.000,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga pakan dan telur secara bersamaan. Menurutnya, keseimbangan kedua komponen tersebut menjadi kunci agar usaha peternakan ayam petelur tetap mampu bertahan di tengah fluktuasi pasar.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *