PravadaNews – Harga beras premium masih menunjukkan kenaikan hingga pekan ketiga Oktober 2026 meskipun stok beras Perum Bulog tercatat sekitar 4,5 juta ton pada Rabu (7/10/2026) lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan tersebut melalui pemantauan harga rata-rata kumulatif dan perubahan harga beras di sejumlah daerah.
“Kemudian, kalau kita perhatikan untuk beras premium, sampai dengan minggu ketiga Oktober 2026 ini mengalami kenaikan sebesar 0,15 persen dibandingkan September 2026, yaitu pada posisi harga Rp16.527 per kilogram,” tutur Direktur Statistik Harga BPS, Sarpono dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Senin (19/10).
Sementara itu, harga beras medium naik 0,18 persen dari sekitar Rp14.654 per kilogram pada September 2026 menjadi Rp14.680 per kilogram hingga pekan ketiga Oktober 2026.
Kenaikan harga juga terlihat di berbagai daerah. BPS mencatat Indeks Perkembangan Harga (IPH) komoditas beras meningkat di 134 kabupaten/kota hingga pekan ketiga Oktober.
Pada tingkat provinsi, kenaikan IPH beras tertinggi terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 1,77%, disusul Kalimantan Utara sebesar 1,70%.
Sarpono kemudian menjelaskan tiga kabupaten yang mencatat kenaikan IPH beras paling tinggi selama periode pemantauan ini.
“Kenaikan tertinggi terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, yaitu perubahan IPH berasnya sebesar 5,84 persen, diikuti oleh Kabupaten Manggarai Timur sebesar 4,45 persen dan Kabupaten Lampung Selatan sebesar 4,34 persen,” ujar Sarpono.
Dalam pemetaan BPS, beras juga termasuk komoditas yang telah berada pada tingkat harga tinggi dan masih mengalami perubahan IPH yang besar.
Adapun Sarpono menyebut beras berulang kali menjadi penyumbang inflasi bulanan sepanjang Januari hingga September 2026, sehingga pergerakan harganya masih menjadi perhatian menjelang akhir tahun.
Di tengah kenaikan tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat stok Bulog sekitar 4,5 juta ton. Jumlah itu terdiri atas Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan persediaan komersial, sehingga tidak seluruhnya merupakan beras premium.
Untuk memperkuat pasokan premium, Bapanas melaporkan stok beras komersial Bulog meningkat dari 7.210 ton pada September menjadi 15.880 ton per Rabu (14/10).
Namun, pemerataan pasokan masih menjadi perhatian di ritel modern. Bapanas sebelumnya mencatat Bulog memasok sekitar 600 ton beras premium per hari ke jaringan ritel, tapi distribusi dari pusat distribusi atau distribution center (DC) menuju gerai belum merata.
“Beras aman. Medium, apalagi. Premium penyaluran distribusinya yang kita jaga ketat. Penyalurannya sampai ke DC, kita tinggal kawal dari DC ke retail-retail,” ungkap Sekretaris Utama Bapanas, Ito Hediarto, dalam keterangan resmi pada Jumat (2/10).
Diketahui, Bapanas mencatat penyaluran tambahan beras medium melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencapai 52.000 ton dari penugasan 74.180 ton hingga 14 Oktober. Pemerintah juga telah memberikan teguran dan pemanggilan kepada ritel yang menjual beras melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).














