PravadaNews – Perbedaan harga telur ayam ras antardaerah mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjajaki bantuan biaya angkut untuk memfasilitasi pengiriman telur dari sentra produksi ke Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, mengatakan Fakfak menjadi salah satu wilayah yang tengah dijajaki untuk menerima pasokan telur dari sentra produksi, meskipun kondisi geografis menjadi tantangan dalam proses distribusinya.
“Kami mencoba memfasilitasi, misalnya di daerah Papua, khususnya Fakfak. Proses ini masih terus kami jembatani, Bapak-Ibu sekalian, karena memang tidak mudah, terutama terkait dengan kondisi geografis,” tutur Nawandaru, Senin (19/10/2026).
Menurut Nawandaru, perdagangan antardaerah tersebut dilakukan untuk membantu peternak di sentra produksi menjangkau wilayah yang membutuhkan pasokan telur dengan harga lebih terjangkau.
Adapun daerah tujuan dipilih berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag, khususnya wilayah dengan harga telur yang masih jauh di atas harga acuan.
Sementara itu, pantauan redaksi di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia (BI) pada Rabu (21/10) pukul 07.00 WIB, harga rata-rata telur ayam ras segar secara nasional tercatat Rp29.700 per kilogram, sedangkan Papua Barat mencapai Rp34.950 per kilogram.
Untuk membantu pengiriman telur ke Fakfak, Nawandaru menyampaikan Kemendag telah berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengenai kemungkinan bantuan distribusi guna mengurangi biaya angkut.
“Kami mencoba menjembatani hal tersebut dan sudah berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Insyaallah, Bapanas juga bisa memberikan bantuan fasilitasi distribusi pangan untuk memperkecil biaya angkut ke wilayah Fakfak. Proses ini masih berjalan, Bapak-Ibu sekalian,” ujar Nawandaru.
Meski demikian, Kemendag belum menyampaikan kepastian bantuan biaya angkut ini. Besaran bantuan, jumlah telur yang akan dikirim, serta jadwal penyaluran ke Fakfak juga belum dirinci.
Sebelumnya, Bapanas telah menjalankan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk menyalurkan 5.040 kilogram telur ayam ras dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ke Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, hingga Jumat (2/10).
Di sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat harga telur di sejumlah sentra produksi masih mengalami tekanan akibat melimpahnya pasokan, sehingga diperlukan penguatan distribusi menuju daerah yang membutuhkan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan pengiriman telur ke wilayah timur menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan penyerapan hasil produksi sekaligus membantu harga jual di tingkat peternak.
“Daerah-daerah sentra ini harus terus didorong agar harga telur ini bisa naik dan salah satunya adalah mendistribusikan ke wilayah timur yang memang harganya masih cukup tinggi,” ujar Agung dalam keterangannya, Jumat (16/10).
Selain memperkuat distribusi antardaerah, Kementan juga mendorong penyesuaian produksi secara terukur agar pasokan telur sesuai dengan kebutuhan pasar dan harga di tingkat peternak dapat kembali seimbang.














