Iliustrasi Beras. (Foto: Dok. Perum Bulog)

Beranda / Advitorial / Pemerintah ‘Patgulipat’ soal Swasembada Beras

Pemerintah ‘Patgulipat’ soal Swasembada Beras

PravadaNews – Pemerintah mengklaim tidak lagi impor beras. Terakhir impor beras pada tahun 2024 yakni sebanyak 4,5 juta ton. Akan tetapi, pada 2025, beras Indonesia surplus sebesar 4,2 juta ton.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas menekankan, perlunya peningkatan pada produktivitas untuk mencapai swasembada pangan.

“Kita harus bisa meningkatkan kemampuan kita agar produktivitas naik, agar kita swasembada pangan,” kata Zulhas pada pekan lalu saat menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convenstion Exhibition (ICE) BSD.

Berbeda dengan data yang dipaparkan Zulhas, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia masih melakukan aktivitas impor beras sebanyak 450.734 ton sepanjang 2025.

Terkait data BPS tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan, impor beras pada tahun 2025 hanya beras khusus untuk kebutuhan industri. Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa untuk beras jenis medium Indonesia tidak lagi impor.

“Stok beras kita banyak. Indonesia tidak impor beras medium lagi. Kita operasi besar. SPHP beras digelontorkan,” kata Amran.

Diketahui, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog mencapai 4,48 juta ton per Rabu (30/9).

Di tengah stok beras yang melimpah, ancaman bagi ketahanan pangan di depan mata. El Nino contohnya. Ancaman El Nino akan berdampak pada lahan para petani yang akan alami kekeringan. Sehingga, dapat mengganggu produktivitas para petani.

Amran menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan antisipasi 2 tahun sebelumnya dalam menghadapi ancaman El Nino Godzilla. “Stok kita banyak, melimpah. Stok kita 4,5 juta ton, jadi aman,” kata Amran.

Selain ancaman El Nino, pemerintah juga menyoroti sejumlah persoalan pada komoditas beras, salah satunya kenaikan harga. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), mencatat bertambahnya daerah yang alami kenaikan harga beras dari 114 menjadi 134 daerah.

Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir mengingatkan agar ketersediaan stok beras yang melimpah harus dibarengi dengan kelancaran distribusi.

Sementara itu, Kepala Posko Satgas Pangan Bareskrim Polri, Zain Dwi Nugroho mengatakan, kenaikan harga beras ini terjadi adanya persaingan untuk mendapatkan gabah dari petani seiring berkurangnya hasil panen imbas musim kemarau.

Penurunan produksi tersebut tercermin dalam data BPS yang mencatat produksi Gabah Kering Panen (GKP) pada Agustus 2026 sebesar 6,52 juta ton, turun 3,15% dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 6,73 juta ton.

“Produksi Gabah Kering Panen (GKP) saat ini menurun akibat musim kemarau dan dampak El Nino. Sehingga, pembelian Gabah Kering Panen dari petani menjadi rebutan, bail oleh penggilingan maupun produsen,” jelas Zain.

Selain itu, Satgas Pangan mendapati harga pembelian juga melebihi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan yaitu sebesar Rp6.500 per kilogram (kg).

“Sehingga, banyak GKP yang akhirnya dialihkan untuk produksi beras fortifikasi oleh para produsen,” pungkas Zain.

Harga beras berdasarkan SP2KP dikutip Rabu (21/10/2026) pukul 17:45 WIB. Harga beras Medium hari ini sebesar Rp 14.002 per kilogram. Sementara itu, harga beras Premium hari ini sebesar 15.680 per kilogram.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *