Sejumlah merek beras di Pasar Kemiri, Depok, Jawa Barat. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Produksi Beras Turun di Tengah Minimnya Realisasi Program Cetak Sawah

Produksi Beras Turun di Tengah Minimnya Realisasi Program Cetak Sawah

PravadaNews – Alih-alih swasembada, produksi beras diproyeksi turun pada tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras pada tahun ini mencapai 33,11 juta ton. Produksi pada tahun ini turun sekitar 1,59 juta ton dibandingkan pada 2025 yang mencapai 34,69 juta ton.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, proyeksi beras diperkirakan mencapai 4,57%. Hal itu berdasarkan penghitungan dari September dan potensi porduksi tiga bulan terakhir.

“Untuk produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Desember diperkirakan mencapai 33,11 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 1,59 juta ton atau menurun 4,57% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS awal pekan lalu.

Diketahui, produksi beras nasional meningkat dari 30,62 juta ton pada 2024 menjadi 34,69 juta ton pada 2025 atau tumbuh sebesar 13,29%. Akan tetapi, proyeksi produksi 2026 masih lebih tinggi dibandingkan 2024, perkembangan sepanjang tahun ini menunjukkan penurunan hasil beras mulai terjadi secara kumulatif.

BPS memperkirakan produksi beras sepanjang Januari–September 2026 mencapai 28,10 juta ton atau turun 2,12% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 28,71 juta ton.

Penurunan itu terlihat pada September 2026 ketika produksi beras diperkirakan hanya mencapai 2,81 juta ton, berkurang 18,25% dibandingkan September 2025 yang sebesar 3,44 juta ton.

Selain penurunan pada September, BPS memperkirakan hasil beras selama Oktober–Desember 2026 juga menyusut dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Sementara itu, untuk potensi produksi beras sepanjang Oktober sampai dengan Desember 2026 diperkirakan sebesar 5,01 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,98 juta ton atau menurun 16,32% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” jelas Ateng.

Penurun produksi beras juga dibarengi dengan penyusutan cetak sawah yang dijalankan oleh pemerintah. Dari target 225.000 hektare pada 2025, lahan yang berhasil ditanami hanya mencapai 13.451 hektare atau sekitar 5,98 persen.

Pengamat pangan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khuori dalam diskusi Dua Tahun Prabowo-Gibran di Megawati Institute, Jakarta pada bulan lalu menyatakan bahwa program cetak sawah rakyat masih jauh dari target yang ditetapkan.

Khudori memaparkan, realisasi konstruksi fisik cetak sawah mencapai 104.329 hektare atau 55,68 persen dari target. Namun, lahan yang sudah diolah hanya 54.771 hektare atau 24,34 persen.

Dari lahan yang telah melalui proses pengolahan tersebut, realisasi penanaman baru mencapai 13.451 hektare. Angka itu setara dengan 5,98 persen dari keseluruhan target cetak sawah tahun 2025.

“Capaian target cetak sawah rakyat rendah. Konstruksi cetak sawah hingga sawah diolah 24%. Dari sawah yang diolah, yang ditanami sekitar 5,98%, yang berhasil dipanen lebih kecil lagi,” tulis Khudori dalam materi presentasinya, dikutip Minggu (1/11/2026).

Di samping itu, dampak El Nino juga menjadi salah satu penyebab produksi beras pada periode September-November turun 11,95%. Curah hujan di wilayah Indonesia pada Agustus berada pada kategori rendah. Sehingga, kondisi tersebut dapat memengaruhi pertanaman padi pada bulan-bulan berikutnya.

Hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) BPS mencatat lahan yang masih ditanami padi atau standing crop pada Agustus sebesar 28,07%. Proporsi ini lebih rendah dibandingkan Agustus 2021, 2022, 2024, dan 2025 yang berada pada kisaran 31,16-34,15%.

Pada saat yang sama, luas panen padi Agustus turun 2,83% menjadi 1,08 juta hektare dan produksi padi berkurang 2,94% menjadi 5,46 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), sedangkan potensi luas panen September–November diperkirakan turun 12,97% menjadi 2,23 juta hektare.

“Penurunan luas standing crop mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada pada fase sebelum panen, yaitu fase vegetatif awal, vegetatif akhir, dan generatif. Kondisi ini tentunya berpotensi diikuti oleh penurunan potensi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya,” kata Ateng.

Menurutnya, tanaman yang memasuki fase generatif umumnya akan dipanen satu bulan kemudian, sedangkan fase vegetatif akhir dan vegetatif awal masing-masing membutuhkan sekitar dua dan tiga bulan menuju panen.

Karena itu, kondisi pertanaman pada Agustus menjadi salah satu gambaran potensi panen hingga November.

“Namun, dampak El Nino yang tercermin pada potensi luas panen Januari sampai dengan November 2026 perlu menjadi perhatian kita bersama. Potensi luas panen padi Januari sampai dengan November 2026 diperkirakan sebesar 10,56 juta hektare,” tutur Ateng.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *