Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syafuan Rozi (keenam kanan) bersama Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR) Fauzan Ohorella (ketujuh kanan) dalam acara Speakup Kamtimbmas di Jakarta, Jumat (13/3/2026). ANTARA/HO-FPIR

Beranda / Nasional / Peneliti BRIN Ungkap Faktor Kepercayaan Publik pada Polri

Peneliti BRIN Ungkap Faktor Kepercayaan Publik pada Polri

PravadaNews – Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syafuan Rozi menilai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap kepolisian merupakan budaya hukum masyarakat.

Syafuan menuturkan, apabila budaya hukum masyarakat tinggi, maka akan mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat ke pihak kepolisian.

“Data tren tingkat kepercayaan publik terhadap polisi di dunia masih dipegang oleh negara Belanda dengan urutan pertama sebagai negara yang minim kriminalitas. Hal tersebut tidak terlepas dari budaya masyarakat di Belanda,” ucap Syafuan di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Baca juga: Polisi Dalami Kasus Andrie Yunus

Belanda menerapkan sistem keadilan restoratif atau restorative justice yang menjadi mitigasi awal dalam kehidupan sosial masyarakat lokal. Sehingga, sebelum ke arah penegakan hukum masyarakat terlebih dulu menyelesaikan dalam internal kekeluargaan atau pendekat hukum adat (urban law).

Syaufan juga berpendapat kepolisian Indonesia bersyukur dengan adanya ilmuwan politik Prof. Hermawan Sulistyo, yang membantu mendesain reformasi struktural dan kultural di tubuh institusi Polri.

Syafuan menyebut Prof. Hermawan merupakan dosen di Universitas Bhayangkara yang bertugas melatih, mulai dari perwira Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) agar mempunyai kemampuan seperti polisi di Jepang, di Singapura, dan Belanda.

“Yang tadinya, jaga jarak sama terus menangkap. Prof Herman bilang ‘bukan itu tugas polisi’, kasihan nanti penjara penuh,” tutur dia.

Pada kesempatan itu, Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR) Fauzan Ohorella membeberkan data kinerja polisi yang tidak banyak masyarakat tahu selama bulan Ramadhan.

Syafuan menjelaskan ketahanan pangan dan stabilitas harga bahan pokok yang terjadi saat ini tidak terlepas dari peran aktif Polri.

“Bapak Kapolri instruksikan jajaran untuk membentuk satgas yang bertujuan memantau dan menekan distributor dan tengkulak, yang berdampak langsung pada masyarakat, khususnya ibu-ibu di bulan Ramadhan,” ujarnya.

Fauzan menyampaikan banyak pengamat yang terus memperhatikan kinerja Polri selama Ramadhan. Dia merujuk pada tulisan dari pengamat politik senior Boni Hargens yang menilai Safari Ramadhan Polri sebagai wujud dari fasilitator sosial.

Polri sebagai fasilitator sosial, yang berperan aktif dan mengambil bagian penting di bulan Ramadhan, yaitu menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga bahan pokok.

Syafuan pun turut menyinggung layanan call centre 110 Polri yang dinilai sangat efektif dan langsung dirasakan masyarakat terkait respon cepat Polri.

Syafuan menunjukkan hal tersebut dirasakan oleh masyarakat di Batam yang resah dengan kegiatan balap liar, yang langsung direspons cepat oleh Polsek Batu Ampar, Kota Batam.

“Ini menunjukkan Polri komitmen menjaga kamtibmas tetap kondusif di tengah bulan Ramadhan,” ucap Syafuan.

Fauzan juga menekankan masyarakat Indonesia harus bisa menyaring setiap berita yang dikonsumsi, baik dari media sosial maupun media arus utama.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *