Ilustrasi Selat Hormuz (Foto: dok pravadaNews)

Beranda / Mancanegara / Krisis Hormuz Ancam Energi Hingga Digital Global

Krisis Hormuz Ancam Energi Hingga Digital Global

 

PravadaNews – Konflik Amerika Serikat (AS)- Israel vs Iran telah memasuki dua pekan. Kedua kubu hingga saat ini masih melancarkan serangan demi serangan hingga memporak porandakan sejumlah infrastruktur dari masing-masing wilayah.   

Namun tidak hanya infrastruktur dari ketiga negara yang terkena dampak meletusnya konflik tersebut. Lokasi Selat Hormuz yang berada di teluk Arab dan juga berbatasan dengan Iran juga ikut terdampak atas konflik yang masih berseteru tersebut. 

Imbas konflik itu, kini keberadaan Selar Hormuz juga ikut terdampak. Ratusan kapal tangker pengangkut bahan bakar mentah yang menjadi sumber utama pasokan energi di Eropa dan Asia kini juga terancam keberadaannya. 

Adapun Selat Hormuz merupakan salah satu perairan tersibuk dunia yang selama ini sangat terkenal sebagai jalur pelayaran hampir 30 persen cadangan energi global. 

Selama dua pekan terakhir, konflik di Timur Tengah itu kini perlahan mulai dirasakan dampaknya oleh negara-negara di Eropa dan Asia bahkan hingga Indonesia. 

Sekilas, Selat Hormuz mungkin terasa seperti panggung jauh di luar cakrawala Indonesia. Sebuah jalur sempit di kawasan Timur Tengah yang kerap menjadi titik panas geopolitik dunia. 

Namun dalam lanskap global yang kian terhubung, jarak geografis saat ini tidak lagi menjamin keamanan mengenai dampak meletusnya perang di Iran dan sebagian negara teluk Arab. 

Belakangan ini pandangan dunia juga tidak hanya fokus terhadap terancamnya jalur perairan di Selat Hormuz yang memasok kebutuhan energi dunia melainkan muncul kekhawatiran mengenai ancaman keberadaan kabel Internet bawah laut. 

Di balik hiruk-pikuk isu energi, terdapat ancaman lain yang jauh lebih senyap, tetapi dampaknya bisa jauh lebih dahsyat, jaringan kabel serat optik bawah laut yang menopang sistem komunikasi digital global.   

Dalam rilisnya, Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNNP) mengatakan eskalasi konflik antar kubu AS dan Israel vs Iran yang terus meningkat  dikhawatirkan akan merembet ke  gangguan kabel optik bawah laut yang lokasi nya berada di Selat Hormuz dan kawasan perairan teluk. 

BNNP menuturkan sorot perhatian dunia kini tidak hanya fokus soal pasokan minyak melainkan juga terhadap kerusakan atau sabotase yang ditengarai dilakukan negara berkonflik terhadap kabel bawah laut di Selat Hormuz dan perairan teluk. 

Jika konflik itu bergeser dari serangan rudal menjadi sabotase perusakan kabel optik bawah laut maka perang itu tidak hanya ikut menyeret kebutuhan pasokan energi dunia melainkan juga akan  berdampak pada akses internet global. 

Selain internet, kerusakan kabel bawah laut ditengarai juga dapat melumpuhkan sistem perbankan dunia internasional, perdagangan global, radar navigasi kapal dan  pesawat, hingga komunikasi pertahanan antarnegara dapat terganggu secara serius. 

“Gangguan di satu simpul dapat merambat cepat, memicu efek domino yang terasa hingga ribuan kilometer jauhnya,” ujar keterangan rilis humas BNPP RI, dikutip Kamis (19/3/2026).

Baca juga : Dua Tokoh Kunci Iran Tewas dalam Serangan

BNPP menyebut bagi Indonesia, salah satu implikasi yang jarang disorot terletak pada infrastruktur digital. Sebagian lalu lintas data internasional, khususnya jalur  yang mengarah ke Eropa, masih mengandalkan jalur Barat yang terkoneksi melalui kawasan Timur Tengah. 

Dalam kondisi normal, rute ini telah menjadi tulang punggung komunikasi digital lintas benua yang mengalirkan data finansial, layanan cloud, hingga komunikasi sehari-hari.

Menurut BNPP ketika ketegangan di kawasan Selat Hormuz cukup meningkat, maka ditengarai juga  memunculkan risiko terhadap stabilitas jalur ini ikut membesar. 

XJika terjadi gangguan, operator jaringan tak punya banyak pilihan selain mengalihkan trafik ke rute alternatif yang lebih panjang,” tulis rilis BNPP. 

Dalam ekonomi yang semakin bergantung pada konektivitas real-time internet, gangguan semacam ini bukan hanya sekadar isu teknis, melainkan berpotensi hambatan bagi produktivitas dan bisnis.

Di sisi lain, Selat Hormuz tetap menjadi arteri vital bagi pasokan energi global. Sebagian besar perdagangan minyak dunia melewati jalur ini, menjadikannya titik krusial dalam menentukan stabilitas harga energi. 

“Ketika ketegangan meningkat, pasar bereaksi cepat dan harga minyak melonjak, didorong oleh kekhawatiran akan terganggunya suplai,” bunyi rilis BNPP. 

Bagi Indonesia, dampak yang akan muncul bisa bersifat langsung sekaligus berlapis. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, lonjakan harga minyak global juga akan segera tercermin dalam biaya domestik. 

Kenaikan ini tidak berhenti pada sektor energi semata, pola itu juga dapat merembet ke biaya logistik, menekan harga industri, hingga meningkatkan beban operasional negara, termasuk dalam menjaga keamanan wilayah perbatasan.

Dengan kata lain, krisis di Selat Hormuz bukan hanya sekadar isu regional melainkan juga sebagai  pengingat bahwa dalam dunia yang saling terhubung, stabilitas global telah menjadi representasi  kepentingan bersama dan juga  kerentanan di satu titik dapat dengan cepat menjadi persoalan bagi semua.

“Masih banyak yang saat ini telah  membayangkan bahwa internet bergantung pada satelit angkasa. Faktanya, lebih dari 95 persen lalu lintas data internasional dunia justru mengalir melalui kabel serat optik yang terbentang dalam dasar laut,” ungkap BNPP. 

“Kabel-kabel inilah yang akan  menghubungkan benua dengan benua, pusat-pusat keuangan global, serta infrastruktur ekonomi dan keamanan lintas negara,” tutup BNPP.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *