Ilustrasi Massa Demontrasi Menolak Perang (Foto: dok PravadaNews)

Beranda / Mancanegara / Demo Anti-Serangan Iran Meluas di Eropa

Demo Anti-Serangan Iran Meluas di Eropa

PravadaNews– Ribuan orang turun ke jalan di London pada Sabtu,(21/3), memprotes serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Aksi ini menjadi bagian dari gelombang demonstrasi yang meluas di berbagai kota Eropa, menandai meningkatnya tekanan publik terhadap kebijakan militer Barat.

Di pusat ibu kota Inggris, massa bergerak dari Russell Square menuju Whitehall sambil membawa spanduk dan meneriakkan slogan anti-perang. Seruan gencatan senjata dan penghentian intervensi asing di Timur Tengah mendominasi aksi tersebut.

Seorang demonstran, Mariam, menyindir penamaan operasi militer oleh Washington. “Tidak ada intervensi asing. Jangan campuri Timur Tengah dan hentikan pengeboman. Orang berhak hidup dalam damai. Anda tidak bisa mengebom orang demi demokrasi,” ujar Mariam dikutip Rabu (25/3/2026).

Baca juga : Iran Bantah Klaim Trump soal Pembicaraan

Mariam bahkan menyebut operasi yang dinamai “Epic Fury” sebagai “Epic Failure”.

Peserta lain, Adrian dari Birmingham, menilai serangan itu “sangat keterlaluan” dan memperingatkan dampaknya mulai terasa secara global.

“Konsekuensinya, termasuk kenaikan harga minyak dan ketidakamanan global, sudah mulai terasa,” kata Adrian.

Aksi serupa juga terjadi di sejumlah kota lain di Eropa. Di Lisbon, ratusan orang berkumpul di dekat Kedutaan Besar AS dalam demonstrasi yang diorganisasi Dewan Perdamaian dan Kerja Sama Portugal. Didukung lebih dari 70 kelompok, mereka meneriakkan “Yes to peace, no to war” dan menyerukan pelucutan senjata.

Sementara itu di Madrid, sekitar 4.000 orang berunjuk rasa dari Atocha menuju Puerta del Sol. Mereka membawa spanduk bertuliskan “No to war, no to NATO” dan “Spain is not the U.S.”. Aksi ini turut dihadiri tokoh Ione Belarra dan Irene Montero dari Partai Podemos. Montero bahkan menyerukan agar Spanyol keluar dari NATO.

Di Sofia, ratusan demonstran menuntut penghentian serangan serta penarikan pesawat militer AS dari wilayah Bulgaria. Aksi-aksi serupa juga dilaporkan berlangsung di Prancis dan Yunani seiring konflik memasuki pekan ketiga.

Di tengah gelombang protes, kritik juga datang dari kalangan akademisi. Rob de Wijk, profesor dari Universitas Leiden, menyebut tindakan AS sebagai “pemerasan terang-terangan” yang berisiko terhadap keamanan Eropa. Ia menilai negara-negara Eropa perlu mengurangi ketergantungan pada AS dan memperkuat otonomi strategis mereka.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *