PravadaNews – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan signifikan pada Jumat (3/4/2026) pagi dengan terjadinya empat kali erupsi dalam rentang waktu pengamatan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat tinggi kolom letusan mencapai hingga 1.200 meter di atas puncak, disertai material abu vulkanik yang teramati mengarah mengikuti arah angin.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.32 WIB dengan visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 155 detik.
Baca juga: Kuota Wisata Gunung Bromo Ditambah 1.000
“Erupsi kedua terjadi pukul 04.02 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian.
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 174 detik.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali erupsi pada pukul pukul 04.20 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.200 meter di atas puncak (4.876 mdpl).
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya dan barat. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 169 detik.
“Kemudian pukul 05.47 WIB, Gunung Semeru kembali erupsi dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.200 meter di atas puncak atau sekitar 4876 mdpl,” kata Sigit.
Menurut Sigit kolom abu vulkanik teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat dan erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 179 detik.
Sigit menjelaskan Gunung Semeru dalam status aktivitas vulkanik Level III (Siaga), sehingga rekomendasi untuk masyarakat yakni tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
“Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” kata V.
V juga mengimbau masyarakat agar mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujar Sigit.















