PravadaNews – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan tidak akan menahan diri untuk merespons setiap bentuk serangan terhadap Iran, meskipun pemerintah Teheran dan Washington telah mengumumkan gencatan senjata.
Pernyataan ini menandai sikap keras militer Iran di tengah upaya deeskalasi yang masih rapuh.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut pihaknya tidak mempercayai komitmen lawan.
“Kami tidak percaya pada janji. Kami akan menanggapi setiap agresi, bahkan di tingkat yang lebih tinggi,” tulis pernyataan resmi tersebut dikutip Kamis (9/4/2026).
Baca juga : Iran Klaim AS-Israel Alami Kekalahan Telak
IRGC juga menyatakan pasukannya tetap siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan lanjutan.
Sudut pandang ini menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antara jalur diplomasi dan strategi militer Iran. Di satu sisi, pemerintah mengumumkan gencatan senjata dengan Amerika Serikat, namun di sisi lain, IRGC justru menegaskan kesiapan eskalasi.
Sebagai bagian dari sikap tersebut, IRGC mengklaim telah meluncurkan gelombang ke-100 dalam Operasi True Promise 4. Dalam operasi terbaru itu, lebih dari 25 target strategis diserang, termasuk 13 fasilitas energi yang tersebar di kawasan Timur Tengah.
Target yang disebut meliputi fasilitas milik perusahaan Amerika Serikat seperti ExxonMobil dan Dow Chemical di Arab Saudi. Selain itu, IRGC juga mengklaim menyerang fasilitas energi di pelabuhan minyak Yanbu, serta aset energi lain di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Beberapa lokasi yang disebut antara lain fasilitas Bapco Bahrain, kilang Al-Ahmadi di Kuwait, hingga fasilitas Dolphin Gas Company. IRGC juga mengklaim menyerang infrastruktur energi di Fujairah dan pulau minyak Zirku di Uni Emirat Arab.















