Menteri Keuangan AS, Scott Bessent dengan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng di New York, Amerika Serikat. (Dok. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent/Media sosial X).

Beranda / Mancanegara / AS-China Bahas Sistem Peringatan Insiden AI yang Ancam Keamanan Nasional

AS-China Bahas Sistem Peringatan Insiden AI yang Ancam Keamanan Nasional

PravadaNews – Amerika Serikat (AS) dan China mulai membahas pembentukan sistem peringatan untuk mengantisipasi insiden kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berpotensi berdampak terhadap keamanan nasional.

Pembahasan tersebut dilakukan dalam pertemuan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent dengan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng di New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9/2026).

Bessent mengatakan, sistem tersebut diperlukan untuk meningkatkan transparansi antara AS dan China dalam menghadapi risiko yang dapat muncul dari perkembangan AI.

“Kami berpikir bahwa, seperti halnya aktivitas lintas batas lainnya, beralih dari kondisi yang tertutup menuju transparansi yang lebih besar antara kekuatan AI nomor satu dan nomor dua di dunia sangatlah penting,” ujar Bessent yang dikutip, Senin (21/9/2026).

Menurut Bessent, mekanisme pemberitahuan tersebut akan berkaitan dengan insiden AI yang dinilai dapat memengaruhi keamanan nasional kedua negara.

Pembahasan tersebut muncul saat persaingan ketat antara AS dan China dalam pengembangan AI dan industri teknologi. Pasalnya, kedua negara tersebut, saat ini terus berupaya memperkuat posisinya dalam perkembangan teknologi.

Di sisi lain, perkembangan AI juga semakin mendapat perhatian setelah sejumlah peneliti memperingatkan potensi risiko yang dapat ditimbulkan teknologi tersebut. Sejumlah tokoh industri AI bahkan menyerukan agar pengembang lebih berhati-hati dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan.

Meski demikian, pembahasan antara AS dan China belum menghasilkan kesepakatan untuk membentuk sistem peringatan bersama. China juga belum memberikan tanggapan secara terbuka mengenai usulan tersebut.

Disl sisi lain, kantor berita pemerintah China, Xinhua, menyebut kedua pihak melakukan pertukaran pandangan secara terbuka, mendalam, dan konstruktif mengenai sejumlah isu penting di bidang ekonomi dan perdagangan, termasuk AI.

Pertemuan Bessent dan He Lifeng berlangsung menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada pekan ini.

Sebelumnya, Trump menegaskan, AS tidak ingin kehilangan keunggulannya dari China dalam pengembangan AI. Menurut Trump, negara yang memenangkan persaingan AI akan memiliki posisi penting dalam perkembangan teknologi dunia.

Selain AI, Bessent dan He Lifeng turut membahas hubungan perdagangan kedua negara, termasuk rencana menjalankan proses untuk mengidentifikasi sejumlah barang yang berpotensi pemangkasan tarif.

Pembicaraan perdagangan tersebut berlangsung menjelang berakhirnya masa gencatan perang tarif antara AS dan China yang dijadwalkan berakhir pada 10 November 2026.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *