Menteri Perdagangan, Budi Santoso saat mengumumkan HET Minyakita. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Barter Komoditas Jadi Siasat Jaga Surplus Perdagangan

Barter Komoditas Jadi Siasat Jaga Surplus Perdagangan

PravadaNews – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyiapkan skema barter komoditas dengan Filipina untuk menjaga kinerja ekspor di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kebijakan ini dijalankan sebagai opsi mitigasi saat biaya transaksi berbasis valuta asing meningkat signifikan.

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan), mengatakan skema barter bertujuan agar arus ekspor tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS. Opsi ini juga bagian dari strategi mempertahankan surplus perdagangan yang mulai menyempit secara kumulatif.

Baca Juga: Kementerian ESDM Konsolidasikan IUP Batubara

“Sekarang, kalau dikaitkan dengan ekspor, kita harus punya strategi. Kesempatan ekspor makin bagus, Januari–April naik 5,48 persen secara tahunan,” ujar Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, dikutip Jumat (5/6/2026).

Rencana barter muncul setelah Budi bertemu pengusaha Filipina dalam forum ASEAN beberapa waktu lalu. Pelaku usaha selama ini, kata Busan, mengimpor produk Indonesia, sehingga kerja sama barter memiliki dasar perdagangan yang sudah berjalan.

Nilai tukar Filipina, ungkap Budi, juga sedang tertekan, sehingga mekanisme barter dinilai bisa menjadi solusi praktis. Kemendag telah menyiapkan pembeli dan menargetkan penandatanganan kontrak dengan buyer pada 12 Juni 2026.

“Kedua, ada alternatif misalnya pakai barter. Waktu acara ASEAN, kami ketemu salah satu pengusaha Filipina, dia impor barang kita selama ini,” kata Budi.

Selain itu, Budi menyebut perlunya memantau dampak pelemahan kurs terhadap importasi bahan baku dan pasokan kebutuhan pokok. Komunikasi dengan produsen terus dilakukan agar stok domestik tetap aman saat harga barang impor bergerak naik.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia tetap surplus USD0,09 miliar pada April 2026. Surplus ini ditopang sektor nonmigas sebesar USD3,53 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit USD3,44 miliar.

Secara kumulatif, BPS melaporkan neraca perdagangan Januari–April 2026 surplus USD5,64 miliar. Surplus nonmigas tercatat USD14,16 miliar, namun tertahan defisit migas USD8,52 miliar, lebih rendah dibanding periode sama 2025 yang mencapai USD11,07 miliar.

Filipina menjadi salah satu penyumbang surplus nonmigas terbesar Indonesia pada Januari–April 2026 dengan nilai USD2,77 miliar. Laporan BPS mencatat Amerika Serikat dan India berada di urutan atas, sehingga barter diarahkan untuk menjaga arus ekspor tetap stabil ke mitra potensial.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *