PravadaNews – Penyiapan benih untuk program tanam padi seluas 16.400 hektare di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada Oktober 2026 perlu memperhitungkan luas lahan, cara tanam, serta pilihan varietas yang sesuai dengan kondisi sawah.
Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Selatan melaporkan kebutuhan benih pada program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) mencapai sekitar 70 kilogram per hektare. BRMP juga memberikan bantuan benih sumber untuk penangkaran seluas 100 hektare di Bone.
Sebelumnya, bantuan benih varietas Inpari 32 HDB di Kabupaten Gianyar, Bali, mencapai 115.975 kilogram untuk lahan seluas 4.639 hektare pada April 2026. Jumlah tersebut setara dengan 25 kilogram per hektare.
Perbedaan takaran ini berasal dari dua program dengan metode penanaman berbeda sehingga tidak dapat dijadikan patokan yang sama untuk seluruh sawah. Selain jumlahnya, pemilihan benih juga perlu memperhatikan kondisi lahan.
Dalam panduan perbenihan, Kementerian Pertanian (Kementan) menggunakan prinsip enam tepat, yakni tepat varietas, mutu, jumlah, waktu, lokasi, dan harga.
Berdasarkan daftar benih sumber Kementan, pilihan padi terdiri atas beberapa kelompok, seperti inbrida padi sawah irigasi (Inpari), inbrida padi rawa (Inpara), dan inbrida padi gogo (Inpago).
Untuk sawah yang memiliki pengairan irigasi, tersedia varietas seperti Inpari 32 HDB dan Inpari 48 Blas yang juga tercantum dalam standar pengujian kesesuaian varietas padi. Sementara itu, sawah tadah hujan yang bergantung pada curah hujan memiliki pilihan seperti Inpari 39 Tadah Hujan Agritan dan Inpari 46 TDH GSR.
Bagi wilayah yang berisiko mengalami kekeringan, varietas Cisaat dan Inpari 46 TDH GSR termasuk pilihan pembanding dalam pengujian ketahanan padi terhadap keterbatasan air.
Selain ketahanan terhadap kekeringan, petani dapat mempertimbangkan umur tanaman dalam menentukan jadwal tanam. Varietas Cakrabuana Agritan dan Padjadjaran Agritan termasuk kelompok padi berumur sangat genjah atau memiliki masa tumbuh relatif singkat.
Berbeda dengan lahan kering, sawah yang rawan terendam banjir memiliki pilihan Inpari 30 Ciherang Sub1. Adapun lahan pesisir dengan kadar garam tinggi memiliki varietas toleran salinitas seperti Inpari 34 dan Inpari 35 Salin Agritan.
Untuk lahan rawa, tersedia kelompok Inpara yang mencakup varietas Inpara 3. Kelompok Tani Tunas Harapan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, bahkan mengusulkan varietas tersebut untuk sawah baru seluas 18,7 hektare dengan target tanam Oktober 2026.
Di sisi lain, kelompok Inpago seperti Inpago 12 Agritan dan Inpago 13 Fortiz dikembangkan untuk budidaya padi gogo di lahan kering yang tidak menggunakan sistem persawahan.
Dari sisi penyediaan, BRMP Riau mencatat produksi benih sumber mencapai 27.345 kilogram per Rabu (7/10/2026). Sebanyak 21.680 kilogram di antaranya tersedia untuk disalurkan melalui bantuan maupun penjualan.
Meski berbagai varietas telah dikembangkan, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menekankan pentingnya dukungan produksi yang sesuai dengan kebutuhan petani kecil, termasuk akses terhadap benih berkualitas dan irigasi.
Peneliti dan Analis Kebijakan CIPS, Maria “Monik” Dominika, menilai peningkatan produksi perlu disertai dukungan agar petani dapat mempertahankan usaha taninya.
“Petani juga membutuhkan akses dan dukungan yang tepat untuk tetap berdaya serta memperoleh manfaat ekonomi yang layak dari usaha taninya,” ungkap Peneliti ini, dikutip Sabtu (31/10).
Karena itu, CIPS mendorong perbaikan bantuan sarana produksi agar lebih tepat sasaran, disertai peningkatan akses terhadap teknologi pertanian, informasi iklim, pembiayaan, dan asuransi untuk membantu petani menghadapi risiko gagal panen.














