Ilustrasi penanaman padi di sawah. (Foto: Dok. Serikat Petani Indonesia)

Beranda / Ekonomi / Begini Alur Tanam Padi dari Musim hingga Panen

Begini Alur Tanam Padi dari Musim hingga Panen

PravadaNews – Seusai panen, petani belum tentu langsung menanam padi kembali karena ketersediaan air dan pergantian musim menentukan pilihan tanaman berikutnya.

Pengaturan tersebut dikenal sebagai pola tanam, yakni penentuan jenis dan urutan tanaman pada lahan yang sama dalam periode tertentu agar penggunaan lahan dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Idha Widi Arsanti, menjelaskan peningkatan frekuensi tanam perlu didukung pasokan air yang memadai. 

Salah satu contohnya terdapat di Kabupaten Siak, Riau, yang telah mencapai 2,5 kali tanam dalam setahun.

“Dengan ketersediaan air yang memadai, indeks pertanaman yang saat ini mencapai 2,5 dapat terus ditingkatkan hingga mencapai 3 kali tanam dalam setahun sesuai potensi wilayah,” kata Arsanti dalam keterangan resmi Kementan, dikutip Jumat (16/10/2026). 

Indeks pertanaman (IP) menunjukkan frekuensi penanaman pada lahan yang sama dalam setahun. IP 100 berarti satu kali tanam, IP 200 dua kali tanam, dan IP 300 tiga kali tanam.

Berdasarkan kajian Kementan, salah satu pola yang dapat diterapkan pada sawah dengan pasokan air mencukupi yakni padi-padi-padi, yaitu menanam padi selama tiga musim berturut-turut.

Sementara itu, petani dapat menerapkan pola padi-padi-palawija dengan mengganti tanaman pada musim ketiga menjadi jagung atau kedelai. Pilihan lainnya yakni padi-jagung-bera, dengan bera berarti lahan dibiarkan tidak ditanami untuk sementara.

Sebelum menentukan pola ini, petani perlu memperhatikan prakiraan musim hujan dan kondisi air di wilayahnya. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menilai informasi iklim dapat membantu menentukan waktu dan lokasi penanaman.

“Informasi iklim hadir untuk menjawab dua pertanyaan penting, yaitu kapan waktu yang tepat untuk menanam dan di mana produksi paling berpeluang berhasil,” ujar Faisal dalam keterangan resmi BMKG pada Senin (14/9).

Faisal mengatakan, Indonesia memiliki 699 zona musim dengan karakteristik berbeda sehingga jadwal penanaman tidak dapat disamakan di seluruh daerah.

Untuk membantu penyusunan jadwal itu, Kementan menyediakan Sistem Informasi Adaptif untuk Perencanaan Tanam (SIAP TANAM) yang memberikan rekomendasi waktu dan pola tanam berdasarkan prakiraan hujan BMKG serta ketersediaan air.

Setelah menentukan waktu tanam, petani mulai menyiapkan sawah dengan membersihkan sisa tanaman, membajak tanah, memperbaiki pematang, dan meratakan permukaan lahan agar pengairan lebih mudah diatur.

Tahap berikutnya yakni memilih varietas padi dan benih bermutu sesuai kondisi lahan. Pemilihan varietas juga mempertimbangkan umur panen serta ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit.

Dalam sistem tanam pindah, benih terlebih dahulu disemai hingga tumbuh menjadi bibit yang siap dipindahkan ke sawah. Persemaian dapat dilakukan di lahan khusus atau menggunakan wadah tanam sesuai metode budidaya.

Bibit yang umumnya berumur sekitar dua hingga tiga minggu kemudian dipindahkan ke lahan. Salah satu metode yang digunakan yakni jajar legowo, yaitu penanaman padi dalam beberapa barisan yang diselingi lorong kosong untuk memudahkan perawatan.

Selain tanam pindah, petani dapat menggunakan sistem tanam benih langsung (tabela). Metode tersebut memungkinkan benih ditanam langsung di sawah tanpa melalui persemaian dan pemindahan bibit.

Setelah penanaman, petani mengatur pasokan air sesuai kebutuhan tanaman selama pertumbuhan. Salah satu teknik yang dapat digunakan yakni pengairan basah dan kering secara bergantian untuk menghemat air.

Selanjutnya, petani memberikan pupuk sesuai kebutuhan unsur hara tanah serta membersihkan gulma yang mengganggu pertumbuhan padi. Pengawasan hama dan penyakit juga dilakukan selama masa tanam untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman.

Memasuki masa panen, petani memeriksa tingkat kematangan gabah. Berdasarkan panduan Kementan, salah satu tanda padi siap dipanen adalah ketika sekitar 90–95% bulir gabah pada malai telah menguning.

Setelah panen, gabah dipisahkan dari tangkainya melalui proses perontokan, kemudian dikeringkan sebelum disimpan atau digiling menjadi beras. Petani selanjutnya kembali menyiapkan lahan berdasarkan pola tanam yang telah direncanakan untuk musim berikutnya.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *