PravadaNews – Buruh berharap pada Aksi May Day ini, pemerintah dapat lebih memperhatikan kaum buruh yang hingga saat ini belum mendapatkan upah layak.
Perwakilan Buruh dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Reynaldo Sikumbang, Reynaldo Sikumbang berharap, kenaikan upah buruh tahun ini bisa naik di atas 10%.
“Semoga buruh semakin diperhatikan kenaian tiap tahun bisa di atas 10%,” ujar Reynaldo kepada PravadaNews, Jumat (1/5/2026).
Reynaldo juga menceritakan kondisinya di tengah kenaikan harga bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menurutnya, kenaikan upah tidak sebanding dengan kenaikan harga pokok yang kini mulai dirasakan oleh masyarakat akibat dampak gejolak geopolitik.
“Kita semua merasakan dampaknya, dari kenaikan (upah) kita yang hanya 5%-6%, tapi tiba-tiba BBM naiknya hampir 100%, ya berat juga,” kata Reynaldo.
Reynaldo berharap dengan aksi May Day ini, Presiden Prabowo Subianto dapat merasakan secara langsung kesulitan yang dialami para buruh di Indonesia.
“Karena kita buruh, jadi berharap ini data ke acara May Day supaya Pak Prabowo juga melihat ‘oh ini rakyatnya ini benar-benar mendukung aksi ini’ kita juga mendukung Prabowo,” pungkas Reynaldo.
Peringatan May Day 2026 ini dihadiri langsung Presiden Prabowo Subianto, Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Luar Negeri (Menlu) sekaligus Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Sugiono.
Prabowo dalam pidatonya dalam perayaan May Day ini menyinggung perilaku elite dan pengusaha yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Di hadapan ribuan buruh, petani, dan nelayan yang memadati lokasi acara, Presiden mengawali pidatonya dengan refleksi mendalam terhadap kondisi sosial masyarakat.
Prabowo menilai, kelompok pekerja seperti buruh, petani, dan nelayan justru merupakan golongan yang paling jujur dan tulus, meskipun kehidupan mereka masih jauh dari sejahtera.
“Pengalaman saya, para pekerja, para petani, para nelayan justru yang hidupnya susah, mereka adalah orang-orang yang jujur, orang-orang yang ikhlas,” ujar Prabowo.
Presiden secara terbuka mengecam praktik korupsi dan kolusi antara pejabat dan pengusaha yang merugikan negara.
Prabowo menyebut adanya “maling-maling” yang merampok kekayaan negara dan menegaskan sikapnya yang tidak akan mentoleransi tindakan tersebut.
“Negara dirampok oleh maling-maling. Saya tidak rela,” ujarnya dengan nada tinggi yang disambut riuh massa.














