Pelaku UMKM di Rest Area KM 260B Banjaratma, Brebes, Jawa Tengah.(Foto: Dok. KemenKopUKM)

Beranda / Ekonomi / Benarkah UMKM Tulang Punggung Ekonomi Indonesia?

Benarkah UMKM Tulang Punggung Ekonomi Indonesia?

PravadaNews – Julukan tulang punggung ekonomi melekat pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) karena sektor ini menopang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun, kontribusi ekspor UMKM yang baru sekitar 15,7% membuat klaim itu perlu dibaca lebih utuh.

Pada tahun 2025, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat jumlah UMKM Indonesia berada pada kisaran 64 juta unit usaha. Jumlah tersebut mencakup sekitar 99% dari seluruh unit usaha nasional.

Selain itu, Kontribusi UMKM terhadap PDB nasional juga melampaui 60%. Angka itu menunjukkan aktivitas usaha kecil masih menjadi penopang utama perputaran ekonomi domestik.

Peran UMKM juga terlihat pada pasar kerja. Pemerintah melaporkan sektor ini menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional.

Dengan skala itu, UMKM menjadi ruang pendapatan bagi pelaku usaha kecil, serta rumah tangga produktif. Posisi ini menjelaskan mengapa sektor tersebut kerap disebut sebagai penyangga ekonomi rakyat.

Namun, kekuatan UMKM pada pasar domestik belum sejalan dengan kinerja perdagangan luar negeri. Kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih berada pada kisaran 15,7%.

Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah negara kawasan. Kontribusi UMKM terhadap ekspor Singapura mencapai sekitar 41%, sedangkan Thailand berada pada kisaran 29%.

Perbedaan itu memperlihatkan tantangan UMKM tidak lagi sebatas jumlah pelaku usaha. Pembiayaan, kualitas produk, sertifikasi, kapasitas produksi, hinga akses rantai pasok global masih menjadi pekerjaan yang perlu diperkuat.

Senada dengan itu, Direktur Utama Small and Medium Enterprises and Cooperatives (SMESCO) Indonesia Doddy Akhmadsyah menilai, UMKM tetap memegang posisi penting pada ekonomi nasional.

“UMKM hari ini tetap dalam posisinya menjadi tulang punggung perekonomian Republik Indonesia,” kata Doddy saat ditemui dalam acara YOTNC16, di BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, posisi tersebut perlu menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan penguatan UMKM. Sektor ini tidak hanya menggerakkan transaksi, tapi juga menopang pendapatan pada banyak lapisan ekonomi.

Lebih lanjut, kontribusi UMKM dapat dibaca dari dua fondasi utama ekonomi nasional.

“Kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia angkanya lebih dari 60 persen. Penyerapan tenaga kerja oleh UMKM juga hampir mencapai 97 persen,” ujar Doddy.

Meski begitu, besarnya kontribusi domestik belum cukup untuk menjawab kebutuhan naik kelas. Pelaku UMKM tetap memerlukan akses pasar, pendampingan, dan penguatan kapasitas agar mampu bersaing lebih luas.

Karena itu, status UMKM sebagai tulang punggung ekonomi perlu dibaca dari dua sisi. Sektor ini kuat sebagai penopang PDB dan tenaga kerja, tapi masih menghadapi tantangan besar untuk memperluas ekspor ataupun masuk rantai nilai global.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *