PravadaNews – Harga beras masih meningkat di 116 kabupaten/kota pada awal Oktober 2026 menjelang periode akhir tahun. Hal ini membuat Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan kenaikan yang berlanjut hingga Desember dapat memicu low base effect.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan harga beras medium pada minggu pertama Oktober masih naik 0,16%, sedangkan beras premium meningkat 0,13%.
Pergerakan harga ini terjadi saat inflasi September 2026 mencapai 0,30% secara bulanan atau month-to-month (mtm), 3,28% secara tahunan atau year-on-year (yoy), dan 2,17% secara tahun kalender atau year-to-date (ytd). Beras juga masih memberikan andil 0,15% terhadap inflasi tahunan.
Kenaikan yang berlanjut hingga akhir tahun perlu diperhatikan karena low base effect dapat terjadi ketika harga pada periode pembanding sebelumnya lebih rendah sehingga perubahan secara tahunan terlihat lebih besar.
“Kalau beras kenaikannya terus-menerus, maka pada bulan Desember tahun 2026 ada yang dinamakan low base effect. Artinya nantinya pada bulan Desember tahun 2026, jika harganya terus naik dibandingkan dengan Desember tahun 2025 yang hanya Rp15.000, maka akan terjadi inflasi yang tergolong cukup tinggi,” jelas Ateng dalam rapat koordinasi inflasi daerah, Senin (5/10/2026).
Di tingkat penggilingan, BPS mencatat rata-rata harga beras premium di tingkat penggilingan mencapai Rp15.062 per kilogram. Sebulan kemudian, harganya naik Rp123 menjadi Rp15.185 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada beras medium. Harganya naik Rp121 dari Rp13.897 per kilogram pada Agustus menjadi Rp14.018 per kilogram pada September.
Sebelumnya, harga beras premium di penggilingan pada Desember 2025 tercatat Rp13.905 per kilogram dan medium Rp13.284 per kilogram.
“Ini berbeda dengan fenomena tahun 2025 yang menjelang Desember harganya sudah mulai mengalami penurunan. Itu catatan kami, beras perlu diwaspadai adanya low base effect karena pengaruh gap harga di bulan Desember terhadap Desember tahun 2026,” ungkap Ateng.
Dalam pantauan harga beras medium dan premium pada salah satu kios beras di Jalan Baru, Ciracas, Jakarta Timur, berada pada kisaran Rp13.500 hingga Rp17.000 per kilogram dalam pantaun per awal Oktober 2026.
Dari sejumlah varian yang dijual disana, Rojolele A3 dibanderol Rp12.000 per kilogram, BMW Cianjur Rp12.500, Solo Pulen Rp13.000, sedangkan Ramos, Lele SP, dan Jambu masing-masing Rp13.500.
Adapun Pera Biasa dan Mentik dijual Rp14.000 per kilogram, BMW Pandan Wangi Rp15.000, hingga Pera SP Rp16.000.
Sementara itu, Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah menilai pengendalian harga beras menjelang akhir tahun juga bergantung pada tata kelola dan pemerataan pasokan antarwilayah.
Menurutnya, perbedaan kemampuan produksi antardaerah perlu diimbangi dengan distribusi dari wilayah yang memiliki pasokan lebih besar menuju daerah yang kekurangan agar harga di tingkat konsumen tetap terkendali.
“Sebenarnya ada daerah-daerah yang memang unggul dengan angka produksi panen yang tinggi, tetapi di sisi lain ada daerah yang tingkat produksinya rendah. Di sinilah peran pemerintah seharusnya hadir untuk menstabilkan pasokan dan harga antara daerah yang kekurangan dan daerah yang kelebihan,” kata Trubus saat dihubungi, Minggu (20/9).
Karena persoalan perberasan bersifat jangka panjang, Trubus menyoroti program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), operasi pasar, serta penguatan stok tetap perlu diperkuat bersama koordinasi antarlembaga yang menangani pangan.
Upaya tersebut berlanjut pada Jumat (2/10) ketika Badan Pangan Nasional (Bapanas) menugaskan Perum Bulog menyalurkan tambahan 74,18 ribu ton beras SPHP hingga 20 November setelah penyaluran sebelumnya sebanyak 828 ribu ton selesai pada September.
Selain penugasan ini, pemerintah telah memutuskan tambahan alokasi satu juta ton beras medium untuk program SPHP pada Oktober hingga Desember 2026 guna menekan harga dan menjaga penyaluran beras terjangkau kepada masyarakat.















