PravadaNews – Pelaku industri sawit menghadapi tantangan produktivitas ketika luas kebun nasional belum sepenuhnya mencerminkan hasil panen yang optimal.
Direktur PT Siska Ranch Wahyu Darsono mengatakan, pengelolaan kebun menentukan hasil sawit yang dipanen dalam beberapa tahun berikutnya.
“Dalam perkebunan sawit, hasil yang kita lihat hari ini sebenarnya berkaitan dengan proses yang sudah terjadi sejak beberapa waktu sebelumnya,” kata Wahyu saat ditemui dalam seminar nasional di Nice PIK 2, Tangerang, dikutip Jumat (19/6/2026).
Wahyu menjelaskan, perlakuan terhadap kebun pada hari ini dapat berdampak pada hasil dua tahun mendatang. Dengan kondisi itu, peningkatan produktivitas sawit perlu masuk ke praktik pemeliharaan, bukan hanya menghitung luas areal.
Sistem perkebunan yang cenderung ekstraktif, ungkapnya, perlu mulai diarahkan pada pengelolaan yang lebih regeneratif. Pendekatan tersebut menempatkan kondisi lahan, lingkungan, dan daya dukung kebun sebagai dasar peningkatan hasil.
Ketahanan tanah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produksi tandan buah segar (TBS). Bahan organik dan proses biologis di kebun dapat membantu memperbaiki ekosistem tanah yang menopang tanaman sawit.
“Berdasarkan pengalaman kami, produksi sawit dapat meningkat sekitar 10 sampai 15 persen. Namun, angka ini tetap perlu dilihat berdasarkan kondisi kebun masing-masing,” tutur Wahyu.
Pelaku usaha perkebunan itu menilai, perbaikan sistem kebun membutuhkan biaya awal, pengelolaan, dan masa adaptasi. Setiap kebun juga perlu dihitung berdasarkan umur tanaman, curah hujan, kondisi lahan, dan kapasitas pengelolaan.
Di sisi lain, data Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan produktivitas TBS kelapa sawit 2025 sebesar 18,04 ton per hektare. Capaian tersebut masih berada di bawah target 18,45 ton per hektare, meski realisasinya mencapai 97,72 persen dari sasaran.
Laporan Ditjenbun juga menyebut, produktivitas sawit nasional masih relatif rendah dan perlu ditingkatkan bertahap. Peremajaan tanaman, benih unggul, teknologi kebun, hingga penguatan sumber daya manusia menjadi bagian dari arah kebijakan.
Selain itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, pemerintah ikut mengawasi harga TBS agar penerimaan petani membaik.
“Harga TBS sudah naik, 80-85 persen, mungkin saat ini 90 persen sudah naik, tetapi yang belum naik, tetap kita telusuri bersama Satgas,” ujar Amran, Selasa (9/6).
Dalam hal ini, pemerintah masih menelusuri perusahaan yang belum menyesuaikan harga agar pemulihan tidak berhenti sebagai respons sesaat.















