Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. (Dok. BGN)

Beranda / Ekonomi / BGN Buka Pasokan Langsung ke Dapur MBG

BGN Buka Pasokan Langsung ke Dapur MBG

PravadaNews – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono ingin Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pasar besar bagi petani, peternak, dan pelaku usaha pangan lokal.

Untuk mewujudkan target tersebut, BGN menyiapkan sistem pengadaan bahan pangan melalui platform daring Loka MBG agar produsen dapat memasok kebutuhan dapur MBG secara langsung.

Sudaryono mengatakan, program MBG memiliki potensi ekonomi yang besar karena menjangkau sekitar 58 juta penerima manfaat. Dengan alokasi bahan baku Rp10.000 per porsi, kebutuhan pangan dalam program tersebut dapat membuka peluang pasar bagi sektor pertanian dan peternakan.

“Dalam satu porsi itu Rp 15.000. Ada porsi bahan baku Rp 10.000. Bahan bakunya berupa karbohidrat, sayur, buah, protein hewani, protein nabati, dan lain sebagainya. Kalau dikalikan dengan 58 juta penerima manfaat, ini menjadi peluang yang sangat besar bagi pelaku usaha pertanian,” ujar Sudaryono, dikutip Kamis (5/11/2026).

Menurut Sudaryono, besarnya kebutuhan bahan pangan MBG harus dikelola agar memberikan manfaat bagi produsen sekaligus konsumen. Pemerintah perlu memastikan peningkatan permintaan dari program tersebut tidak justru memicu ketimpangan harga di pasar.

Sudaryono menjelaskan, pengelolaan kebutuhan pangan MBG dapat membantu menjaga stabilitas harga komoditas. Ketika harga terlalu tinggi, pengaturan kebutuhan dapat membantu menjaga keterjangkauan bagi konsumen, sedangkan ketika harga jatuh, penyerapan melalui program MBG diharapkan menopang pendapatan petani dan peternak.

“Saya ingin mengajak Bapak dan Ibu semua meningkatkan produktivitas. Yakinlah bahwa MBG ini harus menjadi instrumen yang bisa mendistorsi stok dan harga pangan kita di lapangan, sehingga konsumennya tidak dirugikan, tetapi produsennya juga tidak boleh dirugikan,” tegas Sudaryono. 

Untuk memperpendek rantai pasok, BGN tengah menyiapkan platform Loka MBG sebagai sarana pengadaan bahan pangan secara daring. Melalui sistem ini, asosiasi dan koperasi peternak diarahkan memasok kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tanpa harus bergantung pada perantara.

Sudaryono menegaskan, pengelolaan toko daring tersebut akan melibatkan asosiasi peternak sebagai pemasok. BGN ingin memastikan pelaku usaha yang memproduksi bahan pangan mendapatkan akses langsung ke pasar MBG.

“Jadi, nanti yang mengisi toko online itu adalah asosiasi peternaknya. Bukan calo, bukan makelar, bukan tengkulak. Kita ingin mendukung peternak secara langsung,” jelas Sudaryono.

Selain menyiapkan sistem pengadaan, BGN juga mengarahkan dapur MBG untuk meningkatkan penggunaan telur dalam menu makanan penerima manfaat. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya menyerap produksi peternak di tengah penurunan harga telur.

Sudaryono menilai kebutuhan telur dalam program MBG dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga harga di tingkat peternak. Karena itu, dapur-dapur MBG diminta lebih sering memasukkan telur sebagai bagian dari menu makanan.

BGN juga melakukan penyesuaian kebijakan terkait komposisi susu dalam program MBG. Jika sebelumnya ketentuan kandungan susu minimal 20 persen, kini lembaga tersebut menetapkan penggunaan susu segar minimal 80 persen.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong peningkatan produksi susu segar dalam negeri. Pasalnya, kemampuan produksi susu segar nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan.

“Kita memang punya tantangan karena susu segar kita baru bisa mencukupi 20 persen dari kebutuhan. Tetapi dengan aturan ini, kita ingin mendorong peningkatan produksi susu segar dalam negeri,” ujar Sudaryono. 

Sudaryono menegaskan, kebijakan BGN tidak boleh hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan makanan bagi penerima manfaat MBG. Program tersebut juga harus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam produksi dan penyediaan bahan pangan.

Sudaryono mengingatkan bahwa keputusan pemerintah dapat memengaruhi kesejahteraan banyak orang. Karena itu, pelaksanaan MBG diharapkan mampu memberikan manfaat secara langsung kepada petani lokal dan pelaku usaha pangan lainnya.

“Keputusan seorang pemimpin di atas kertas itu bisa mempengaruhi kesejahteraan jutaan orang. Maka saya ingin kebijakan saya sebagai pemimpin di BGN ini bukan hanya dinikmati oleh orang yang makan MBG, tetapi juga harus bisa mensejahterakan petani-petani lokal kita. Itu yang penting,” pungkas Sudaryono. 

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *