PravadaNews – Kebutuhan anak-anak untuk belajar komputer membuka peluang usaha bagi Febriansah (22) yang kini memiliki sekitar 50 murid les rumahan di Kota Bogor, Jawa Barat.
Bersama kakaknya, Dwiki Maulana, Febriansah merintis usaha tersebut pada Februari 2026 dengan memanfaatkan tiga laptop pribadi. Kegiatan belajar berlangsung di rumah keluarga di Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, tanpa harus menyewa tempat khusus.
Usaha itu berawal dari minat anak-anak sekitar rumah untuk belajar komputer secara langsung.
Menurutnya, sebagian anak membutuhkan tambahan praktik karena fasilitas pembelajaran komputer di sekolah belum selalu memadai.
“Untuk modalnya sendiri, pertama kami punya tiga laptop pribadi. Jadi, kami menggunakan perangkat yang sudah ada terlebih dahulu,” kata pria yang akrab disapa Febri saat dihubungi, Kamis (29/10/2026).
Sebelum membuka les komputer, Febri yang juga bekerja sebagai karyawan swasta pernah memberikan bimbingan mata pelajaran sekolah dasar (SD). Pengalaman ini kemudian menjadi bekal untuk mengelola kelas komputer bersama Dwiki menggunakan perlengkapan yang tersedia.
Awalnya, hanya sepuluh anak dari lingkungan keluarga dan sekitar rumah yang mengikuti kegiatan belajar tersebut. Promosi dilakukan melalui status WhatsApp dengan bantuan kerabat yang memperkenalkan les kepada calon peserta.
Seiring berjalannya waktu, Febri mulai mengunggah video kegiatan belajar melalui TikTok dan Instagram untuk memperluas jangkauan promosi.
Konten itu, lanjutnya, menarik perhatian orang tua yang ingin memberikan tambahan keterampilan komputer kepada anak-anak mereka.
“Peningkatan jumlah murid terjadi ketika video yang kami unggah di TikTok dan Instagram mulai ramai. Dari situ ternyata semakin banyak anak-anak yang tertarik,” ujar lulusan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ini.
Dari sepuluh peserta awal, jumlah murid kini bertambah menjadi sekitar 50 anak setelah usaha berjalan hampir sembilan bulan. Meski peminat meningkat, Febri dan Dwiki tetap mempertahankan sistem pembelajaran berkelompok dengan jumlah peserta terbatas.
Kelas dibuka setiap Sabtu dan Minggu pukul 10.00 hingga 16.00, dengan sekitar lima sesi pembelajaran per hari. Setiap sesi berlangsung selama satu jam dan diikuti lima anak dari jenjang SD hingga sekolah menengah atas (SMA).
Untuk mengikuti kelas, orang tua dikenakan tarif Rp20.000 hingga Rp30.000 per anak per jam. Febri menyebut, pendapatan usaha masih berfluktuasi antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta setiap bulan.
Pemasukan tersebut diprioritaskan untuk membayar listrik, internet, merawat perangkat, serta menambah fasilitas secara bertahap. Namun, keterbatasan laptop dan ruangan membuat pengelola harus mengatur jadwal belajar secara bergantian.
Di tengah perkembangan usaha, Febri dan Dwiki juga ingin memperkuat pembelajaran melalui program #gerakanmengetik10jari.
Program itu diarahkan untuk melatih keterampilan mengetik karena anak-anak yang terbiasa menggunakan telepon genggam belum tentu lancar mengoperasikan laptop.
“Walaupun sekarang anak-anak sudah pandai bermain HP, belum tentu mereka pandai mengetik menggunakan laptop. Makanya, kami mencoba melatih mereka mulai dari situ,” jelas Febri.
Ke depan, Febri berharap usaha les komputer ini dapat terus berkembang tanpa menghilangkan keterjangkauan biaya bagi peserta. Pengembangan fasilitas dan kerja sama dengan pihak lain juga menjadi peluang untuk memperluas kegiatan belajar sekaligus membuka lapangan pekerjaan














