PravadaNews – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 7,06% pada September 2026 di tengah sorotan fenomena makan tabungan.
berdasarkan catatan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), pertumbuham tahunan tersebut meningkat dari 5,55% pada Juni 2026.
Adapun Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menjelaskan kelompok simpanan besar masih mendominasi dana perbankan.
“Simpanan dengan kelompok nominal besar masih mendominasi dari sisi porsi. Sementara itu, simpanan dengan nominal di bawah Rp100 juta, yang mayoritas merupakan simpanan perorangan, juga mencatatkan pertumbuhan,” kata Anggito dalam konferensi pers KSSK, di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Untuk kelompok simpanan Rp100 juta hingga Rp200 juta, Anggito mencatat pertumbuhan sebesar 5,8% secara tahunan. Sementara itu, simpanan Rp200 juta hingga Rp500 juta meningkat sebesar 4,21% pada periode yang sama.
Berbeda dengan kelompok tersebut, simpanan di atas Rp5 miliar tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 11,91% secara tahunan. Anggito menyebut, seluruh kelompok nominal simpanan masih mencatatkan pertumbuhan.
Secara keseluruhan, total simpanan perbankan mencapai Rp10.513 triliun pada September 2026. Berdasarkan penjelasan Anggito, jumlah ini meningkat 8,65% dibandingkan September 2025.
Namun, pertumbuhan itu memunculkan pertanyaan mengenai fenomena makan tabungan yang terjadi di tengah tekanan kebutuhan hidup masyarakat.
“Saya sampaikan saja ya tentang data agregat. Agregat itu berarti kumpulan dari penabung, bukan individu, ya, supaya tidak salah menginterpretasikan,” jelas Anggito.
Fenomena makan tabungan sendiri dikenal sebagai kondisi ketika seseorang menggunakan uang simpanan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena pendapatan tidak mencukupi. Kondisi tersebut dapat terjadi meskipun total simpanan perbankan secara keseluruhan meningkat.
Diketahui, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan porsi pendapatan masyarakat yang ditabung mencapai 15,4% pada September 2026. Angka ini sedikit menurun dibandingkan Agustus 2026 sebesar 15,8%.
Sebaliknya, porsi pendapatan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% pada Agustus menjadi 74,9% pada September 2026. Meski demikian, BI menilai porsi pendapatan untuk tabungan dan pembayaran cicilan relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebelumnya, Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan menyoroti penurunan rata-rata saldo rekening kelompok simpanan kecil.
Berdasarkan kajian INDEF, rata-rata saldo kelompok itu turun dari sekitar Rp2,77 juta pada 2020 menjadi Rp1,66 juta pada Agustus 2026.
“Artinya kita makan tabungan, menguras tabungan kita untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk bahan-bahan makanan,” ungkap Manap dalam diskusi publik Indef, dikutip Rabu (4/11).
Manap menilai, kenaikan harga pangan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan upah turut menekan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Manap mendorong pemerintah memberikan stimulus kepada kelas menengah untuk menjaga daya beli dan konsumsi rumah tangga.














