PravadaNews – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) dinilai semakin mengkhawatirkan seiring lonjakan kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa perjalanan penyakit ini sulit diprediksi dan dapat memburuk dengan cepat hingga menyebabkan perdarahan hebat dan syok.
Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Hartono Gunardi, menyebut mayoritas kasus DBD terjadi pada kelompok usia produktif, namun angka kematian tertinggi justru ditemukan pada anak-anak usia sekolah.
“Sekitar 75 persen kasus terjadi pada usia 5–44 tahun, tetapi proporsi kematian terbesar, sekitar 41 persen, ada pada kelompok usia 5–14 tahun,” ujarnya dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (7/5/2026).
Baca juga : Kolesterol Naik Diam-diam ini Sebabnya
Menurut Hartono, kondisi ini menuntut pendekatan pencegahan yang lebih luas dan konsisten. Hartono menekankan pentingnya pengendalian lingkungan melalui gerakan 3M Plus serta perlindungan tambahan seperti imunisasi, yang telah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk anak usia 4 hingga 18 tahun.
Di sisi lain, kelompok dewasa juga tidak luput dari dampak serius penyakit ini. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe, mengatakan DBD dapat mengganggu produktivitas karena pasien kerap membutuhkan perawatan inap.
“Pasien dewasa, terutama yang memiliki komorbid seperti diabetes atau hipertensi, berisiko mengalami kondisi yang lebih berat dan berdampak pada aktivitas sehari-hari,” kata Sukamto.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan tren peningkatan kasus DBD dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya. Selain itu, siklus puncak kasus kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi hanya tiga tahun atau kurang.
Lonjakan tersebut turut membebani sistem pembiayaan kesehatan. BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD sepanjang 2024, dengan total biaya mencapai sekitar Rp3 triliun.
Perubahan pola cuaca juga disebut memperluas risiko penularan. DBD kini tidak lagi bersifat musiman dan dapat terjadi sepanjang tahun, sehingga upaya pencegahan dinilai harus menjadi kebiasaan harian masyarakat.
Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 dimanfaatkan sejumlah pihak untuk memperkuat upaya tersebut. PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis guna meningkatkan edukasi dan akses layanan terkait pencegahan DBD.
Presiden Direktur Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan bahwa dengue masih menjadi tantangan besar karena belum adanya terapi spesifik untuk menyembuhkan penyakit tersebut.
“Pencegahan menjadi sangat penting. Kami berkomitmen mendukung target ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’,” ujar Takeda.















