PravadaNews – Psikiater Elvine Gunawan mengingatkan perempuan untuk tidak menganggap remeh perubahan suasana hati saat menstruasi, terutama jika disertai gejala depresi berat hingga muncul keinginan menyakiti diri.
Menurut Elvine, kondisi tersebut bisa mengarah pada Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD), yakni gangguan suasana hati yang lebih serius dibanding sindrom pramenstruasi biasa.
“Kalau suasana hati jauh lebih depresif dibandingkan biasanya, bahkan sampai muncul ide menyakiti diri atau pesimisme yang ekstrem, itu bukan lagi kondisi normal dan perlu bantuan profesional,” ujar Elvine dikutip Rabu (22/4/2026).
Baca juga : Risiko Jantung Dimulai dari Usia 30-an
Elvine menjelaskan, perubahan hormon estrogen yang ekstrem menjelang menstruasi dapat memengaruhi kadar serotonin di otak.
“Ketidakseimbangan ini berpotensi memicu gangguan emosi yang lebih berat pada sebagian perempuan,” tuturnya.
Elvine menambahkan, PMDD umumnya muncul secara berulang pada fase pramenstruasi. Tanpa penanganan yang tepat, gejalanya dapat semakin memburuk dari waktu ke waktu.
Untuk mengenali kondisi tersebut, Elvine menyarankan perempuan mencatat siklus menstruasi sekaligus perubahan emosinya setiap bulan.
“Dengan mencatat, kita bisa tahu apakah respons emosi di masa tertentu lebih berat dibandingkan periode lain,” kata Elvine.
Eovine juga menekankan pentingnya mencari bantuan profesional jika kondisi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Menurut dia, penanganan dini dapat membantu mengendalikan gejala lebih efektif.
“Ini bukan bentuk kelemahan, melainkan kondisi medis yang bisa ditangani,” pungkas Elvine.















