PravadaNews – Di tengah kepungan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat, harapan untuk meredakan karhutla datang dari langit.
Pemerintah memanfaatkan potensi pembentukan awan hujan pada 4–8 September 2026 melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dengan harapan hujan dapat membantu membasahi lahan dan menekan meluasnya kebakaran.
Upaya ini sekaligus menjadi langkah untuk mengurangi dampak kabut asap yang masih dirasakan masyarakat.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, penanganan karhutla di Kalbar terus menunjukkan perkembangan.
Namun, persoalan asap masih menjadi perhatian karena karakteristik lahan gambut yang membuat asap bertahan meski api telah dipadamkan.
“Jadi memang terjadi penurunan, meskipun sangat pekat asapnya. Kabutnya ini bisa selesai setelah datang hujan yang deras,” ujar Suharyanto dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Suharyanto, hujan deras menjadi salah satu faktor penting untuk mengatasi kabut asap. Karena itu, BNPB merencanakan pengerahan dua unit pesawat Cassa untuk melaksanakan OMC di Kalimantan Barat.
“Untuk Kalimantan Barat kami rencanakan dua unit pesawat Cassa ini untuk melaksanakan OMC. Apinya sudah padam, tetapi asapnya ini yang mengganggu kehidupan masyarakat,” ujar Suharyanto.
Suharyanto menegaskan, setiap bibit awan yang berpotensi menghasilkan hujan akan dimanfaatkan untuk penyemaian.
OMC juga dilakukan tidak hanya di wilayah terdampak karhutla, tetapi juga di daerah lain untuk membantu pembasahan lahan dan menjaga tinggi muka air tanah.
Sementara, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, berdasarkan informasi BMKG, terdapat potensi awan hujan di Kalbar pada 4-8 September. Dan pihaknya akan memaksimalkan untuk pelaksanaan OMC.
“Alhamdulillah tadi dengan BMKG ada potensi awan hujan di Kalimantan Barat ini dari tanggal 4 sampai tanggal 8. Tadi Pak Danlanud sudah sepakat, sampai tengah malam pun kalau potensi awan hujan ada, jalan,” ujar Raja Juli.
Menhut juga memastikan dukungan pesawat untuk pelaksanaan OMC tetap disiagakan hingga 13 September 2026. Langkah tersebut dilakukan agar setiap peluang pembentukan awan hujan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Meskipun tidak langsung terkait dengan lokasi terjadinya karhutla, kita lakukan. Pembasahan, meninggikan tinggi muka air tanah, supaya tidak akan terjadi kebakaran,” kata Raja Juli.
Pemerintah berharap optimalisasi OMC dapat membantu mempercepat penanganan kabut asap. Sekaligus mencegah munculnya kebakaran baru di Kalimantan Barat.















