Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta. (Foto: Dok: Intan Afrida Rafn

Beranda / Nasional / ESDM Dorong PLTB Jadi Penopang PLTA

ESDM Dorong PLTB Jadi Penopang PLTA

PravadaNews – Penurunan debit air yang terjadi di Sulawesi Selatan akibat El Nino ternyata berdampak pada produksi listrik Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kondisi serupa juga mulai terlihat pada sejumlah sungai di wilayah lain, termasuk Kalimantan.

Kondisi tersebut membuat arus listrik di kawasan itu jadi melemah lantaran tidak ada pemanfaat PLTA.

Melihat situasi itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) untuk menopang PLTA di Sulawesi Selatan saat debit air mengalami penurunan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya kombinasi antarsumber energi terbarukan untuk menjaga pasokan listrik.

“PLTA memang turun. Turun karena berkepanjangan ya (kemarau). Sekarang sungai-sungai di Kalimantan kan juga surut. Nah, yang saya lihat justru memang adalah PLTB,” ujar Eniya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Menurut Eniya, potensi angin justru meningkat ketika musim panas atau kemarau berlangsung. Bahkan, berdasarkan data yang dipelajarinya, angin dapat bertiup selama 24 jam pada periode tertentu ketika kondisi El Nino terjadi.

Kondisi tersebut, kata dia, terlihat pada dua PLTB yang telah beroperasi di Sulawesi Selatan, yakni PLTB Sidrap dan PLTB Jeneponto. Eniya mengaku telah mengunjungi kedua pembangkit tersebut dan mendapati keduanya mampu beroperasi dengan kapasitas penuh.

Dari kondisi tersebut, Eniya menilai PLTB dapat menjadi salah satu pembangkit yang dapat dikombinasikan dengan PLTA. Terutama saat musim kemarau yang menyebabkan debit air berkurang, potensi angin justru dapat dimanfaatkan untuk menopang produksi listrik.

“Kesimpulan sementara kita adalah, pada saat panas, sungai itu surut, air itu surut, PLTA ini harus dikombinasi dengan angin. Jadi angin malah 24 jam,” jelas Eniya.

Adapun di Indonesia sendiri disebut memiliki karakteristik angin yang berbeda dibandingkan sejumlah negara seperti Jepang, China, maupun negara-negara Eropa. Menurut Eniya, terdapat periode sekitar empat hingga empat setengah bulan ketika potensi angin dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Kita itu punya empat bulan full yang bisa deliver 24 jam. Itu di Juni, Juli, Agustus, September, setengah Oktober lah kira-kira empat sampai empat setengah bulan,” kata Eniya.

Selain PLTB, Eniya mengatakan PLTA juga dapat dikombinasikan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kombinasi berbagai sumber energi terbarukan itu dinilai penting karena masing-masing memiliki karakteristik produksi yang berbeda sesuai kondisi cuaca.

“Apalagi dipicu memang kepanasan yang berkepanjangan malah memicu anginnya tambah tinggi. Ini sama persis seperti PLTS juga makin banyak bisa dikonsumsi. Nah, PLTA ini harus dikombinasi dengan renewable energy angin maupun PLTS,” ucap Eniya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, tengah menyiapkan langkah mitigasi agar kebutuhan listrik warga, terutama di Sulawesi Selatan, tetap dapat terpenuhi. Pasalnya, di lokasi tersebut, tenaga listrik yang saat ini tengah dimanfaatkan, yakni PLTA.

Namun, Bahlil tak menjelaskan secara rinci pembangkit jenis apa yang akan digunakannya. Namun, pihaknya akan berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) untuk memetakan kondisi kelistrikan di daerah lain. 

“Daerah-daerah lain sebentar kita akan rapatkan dengan PLN untuk kita mitigasi sejak awal,” ucap Bahlil.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *