PravadaNews – Pelemahan rupiah yang berbeda dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia membuat faktor penyebab tekanan nilai tukar kembali menjadi perhatian pelaku ekonomi.
Di tengah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) yang juga dirasakan negara lain, rupiah justru bergerak dengan tantangan berbeda sehingga kondisi domestik ikut menjadi sorotan.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (21/8/2026) menguat ke kisaran Rp17.700-an per dolar AS. Namun, posisi tersebut masih berada di atas level akhir 2025 yang sekitar Rp16.000 per dolar AS.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tapi juga kondisi domestik yang memengaruhi persepsi investor terhadap ekonomi Indonesia.
“Kalau misalnya karena masalah global, harusnya trennya kita sama dengan negara-negara lain. Tapi kalau kita lihat negara tetangga, Malaysia Ringgit sudah menguat, Thailand Baht sudah menguat, Philippine Peso juga menguat, malah hanya Rupiah saja yang melemah,” jelas Dipo dalam keterangannya, Sabtu (22/8).
konflik geopolitik, menurut Dipo, memang memberikan tekanan terhadap pasar keuangan, tapi perbedaan kinerja rupiah dengan mata uang kawasan menunjukkan adanya persoalan domestik yang ikut memengaruhi nilai tukar.
“Faktor global betul ada, perang Iran, shock, mungkin itu kita dimulai oleh faktor global, tetapi yang tetap menjadi masalah hari ini adalah faktor domestik itu. Faktor global mungkin 30-40%, domestik mungkin 60-70% dari masalah,” ucap Ekonom itu.
Lebih lanjut, perhatian investor juga terlihat dari indikator risiko seperti Credit Default Swap (CDS) yang mencerminkan persepsi pasar terhadap risiko suatu negara. Kenaikan indikator ini menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam membaca kepercayaan investor.
Dari sisi fundamental ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit tersebut terjadi karena nilai impor sebesar US$24,81 miliar lebih tinggi dibandingkan ekspor yang mencapai US$23,20 miliar.
Meski demikian, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif Januari-Mei 2026 masih mengalami surplus US$4,03 miliar. Surplus itu terutama berasal dari perdagangan nonmigas yang tetap mencatatkan kinerja positif.
Data perdagangan ini menunjukkan tekanan eksternal masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas ekonomi. Kondisi neraca perdagangan menjadi bagian dari indikator yang dipantau pasar dalam melihat daya tahan ekonomi Indonesia.
Adapun penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada kondisi global, tapi juga dipengaruhi kemampuan menjaga fundamental ekonomi dan kepercayaan pelaku pasar. Hal tersebut menjadi tantangan ketika tekanan nilai tukar masih berlangsung.















