Ilustrasi telur ayam. (Foto: Dok. Freepik)

Beranda / Ekonomi / Distribusi Sulit Bikin Harga Telur di Papua Pegunungan Tinggi

Distribusi Sulit Bikin Harga Telur di Papua Pegunungan Tinggi

PravadaNews – Harga telur ayam ras di Papua Pegunungan masih berada jauh di atas wilayah lain, dengan harga tertinggi mencapai Rp80 ribu per kilogram di Kabupaten Mamberamo Tengah berdasarkan pemantauan pasar Jumat (21/8/2026).

Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat harga telur ayam ras di Papua Pegunungan berada pada rentang Rp64 ribu-Rp80 ribu per kilogram.

Harga tersebut tercatat di Jayawijaya Rp64 ribu, Yahukimo Rp64 ribu, Pegunungan Bintang Rp70 ribu, Tolikara Rp70 ribu, dan Mamberamo Tengah Rp80 ribu per kilogram.

Pada periode yang sama, harga telur ayam ras nasional tercatat Rp26.215 per kilogram. Artinya, harga telur di Mamberamo Tengah berada sekitar tiga kali lipat dibanding rata-rata nasional berdasarkan data SP2KP Kemendag.

Perbedaan harga itu menjadi perhatian pemerintah karena wilayah Papua Pegunungan memiliki tantangan distribusi yang berbeda dibanding daerah lain.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, pemerintah terus memantau disparitas harga antarwilayah melalui SP2KP, terutama pada daerah yang menghadapi kendala distribusi.

“Di Papua Pegunungan itu kan memang distribusinya tidak semudah dengan tempat yang lain,” kata Budi di Kementerian Perdagangan, dikutip Sabtu (22/8).

Menurutnya, pasokan tetap dijaga dengan menghubungkan wilayah yang membutuhkan komoditas pangan dengan daerah yang memiliki produksi lebih besar.

Salah satu daerah pemasok telur ayam ras yakni Jawa Timur, terutama Kabupaten Blitar yang menjadi salah satu sentra produksi. Berdasarkan data SP2KP, harga telur ayam ras di Blitar tercatat Rp24 ribu per kilogram.

Perbedaan harga antara Mamberamo Tengah dan Blitar mencapai Rp56 ribu per kilogram. Selisih ini menunjukkan adanya pengaruh biaya distribusi antara daerah produksi dan wilayah konsumsi.

“Jawa Timur banyak pasokan telur, di Blitar kan supplier-nya banyak,” ungkap Mendag Budi.

Dari sisi ekonomi masyarakat, Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Pegunungan mencatat inflasi wilayah tersebut pada Juli 2026 sebesar 4,64% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 120,75.

Catatan BPS menunjukkan perubahan harga kebutuhan sehari-hari masih menjadi bagian dari dinamika ekonomi masyarakat Papua Pegunungan.

Perbedaan harga telur ayam ras antara Papua Pegunungan dan daerah produksi menunjukkan persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan barang, tapi juga bagaimana distribusi memengaruhi harga yang dibayar konsumen.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *