Menteri Perdagangan, Budi Santoso. (Foto: Dok. Kementerian Perdagangan)

Beranda / Ekonomi / Penyimpanan Buah untuk Ekspor Masih Terbatas

Penyimpanan Buah untuk Ekspor Masih Terbatas

PravadaNews – Buah yang melimpah saat panen belum seluruhnya dapat dikirim ke luar negeri karena fasilitas penyimpanannya masih terbatas. Tanpa suhu yang terjaga, mutu buah dapat menurun sebelum mencapai pasar ekspor.

Keterbatasan penanganan setelah panen masih menjadi tantangan di tengah kecilnya pangsa Indonesia dalam perdagangan buah dunia. Sepanjang 2025, porsinya tercatat baru mencapai 0,24%.

Kemudian pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) membuka peluang investasi hortikultura dari pelaku usaha Provinsi Jiangsu, Tiongkok. Kerja sama itu diarahkan untuk memperkuat penanganan buah setelah dipanen.

“Kami ingin agar hasil produksi Indonesia yang melimpah dapat terserap melalui ekspor,” ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso saat menerima delegasi Jiangsu di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Rencana investasi tersebut mencakup fasilitas pendinginan awal atau pre-cooling, penyortiran, serta gudang berpendingin atau cold storage. Fasilitas ini disiapkan untuk durian, alpukat, manggis, dan buah naga merah.

Selain menjaga mutu buah, kerja sama diarahkan untuk membawa teknologi pascapanen kepada pemasok lokal. Kemendag juga akan mempertemukan investor dengan calon mitra usaha di dalam negeri.

Meski demikian, keterangan resmi Kemendag belum merinci nilai investasi, lokasi pembangunan, kapasitas penyimpanan, maupun waktu operasional fasilitas tersebut.

Adapun kebutuhan fasilitas penyimpanan terlihat dari kinerja ekspor buah yang masih terbatas. Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag mencatat nilai ekspornya mencapai US$516,17 juta sepanjang 2025.

Nilai itu menempatkan Indonesia pada urutan ke-43 sebagai pemasok buah dunia. Dari program Desa Bisa Ekspor, baru 17 desa hortikultura dinilai siap memasuki pasar internasional, sedangkan 164 desa lainnya masih membutuhkan penguatan.

Persoalan juga terjadi sebelum buah meninggalkan sentra produksi. Kajian Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kehilangan dan pemborosan subsektor hortikultura mencapai 31,8%.

Khusus buah-buahan, kehilangan hasil diperkirakan mencapai 45,5% dengan kerugian lebih dari Rp20 triliun per tahun. Kajian tersebut menempatkan penyimpanan sebagai salah satu bagian penting dalam mengurangi kerusakan komoditas setelah dipanen.

“Penyimpanan dingin merupakan alat yang sangat diperlukan dalam teknik pengawetan dan memiliki peran penting dalam meningkatkan umur simpan bahan yang mudah rusak,” tulis Ira Mulyawanti dan Esty A. Suryana dalam kajian tersebut, dikutip Selasa (4/8).

Kajian yang sama mencatat penggunaan ozon dan penyimpanan dingin pada cabai mampu menekan kehilangan hasil dari 8,86% menjadi 3,49%. Temuan ini menunjukkan fasilitas penyimpanan dapat membantu menjaga mutu komoditas hortikultura sebelum dipasarkan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *