Ekspor unggas RI (foto dok:PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Ekspor Unggas RI Melonjak Tembus di Pasar Global

Ekspor Unggas RI Melonjak Tembus di Pasar Global

PravadaNews – Kinerja ekspor unggas Indonesia pada 2026 menunjukkan lonjakan yang tidak bisa dianggap biasa, sehingga tembus di pasar global.

Di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya reda, sektor ini justru menemukan momentum bukan sekadar bertahan, tapi mulai menancapkan posisi di pasar internasional.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat, ekspor produk unggas pada Maret 2026 mencapai 545 ton dengan nilai Rp 18,2 miliar. Negara tujuan pun bukan pasar sembarangan mulai dari Singapura, Jepang, hingga Timor Leste.

Menariknya, ekspor ini didominasi telur konsumsi sebanyak 517 ton atau sekitar 8,13 juta butir. Sisanya berasal dari daging ayam dan produk olahan, yang mulai menunjukkan pergeseran arah industri ke produk bernilai tambah.

Baca juga: IMF Apresiasi Stabilitas Ekonomi RI

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari fondasi produksi dalam negeri yang sudah kuat.

“Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras dan seterusnya. Nah ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain,” ujar Andi Amran Sulaiman, di kutip Senin (20/4/2026).

Jika ditarik ke belakang, tren kenaikan ini terlihat konsisten. Pada 2024, ekspor unggas masih berada di kisaran ±300 ton dengan nilai Rp 10–11 miliar. Setahun kemudian naik menjadi ±400 ton dengan nilai Rp 13–15 miliar. Kini, angka tersebut kembali melonjak, menandakan akselerasi yang semakin agresif.

Tak hanya volume, arah bisnis juga berubah. Produk olahan seperti nugget dan karaage mulai mengambil porsi lebih besar. Ini bukan sekadar diversifikasi, tapi sinyal bahwa Indonesia mulai bermain di rantai nilai yang lebih tinggi bukan hanya pemasok bahan mentah.

“Sekarang ada 10 tujuan negara langganan ekspor kita,”Kata Andi.

Di balik ekspansi ini, ada satu faktor kunci yang sulit diabaikan: surplus produksi. Indonesia saat ini mencatat produksi daging ayam ras mencapai 4,29 juta ton dengan konsumsi 4,12 juta ton per tahun. Sementara telur ayam ras diproduksi 6,54 juta ton dengan konsumsi 6,47 juta ton.

Dengan selisih tersebut, ruang ekspor terbuka lebar tanpa harus mengorbankan kebutuhan domestik.

“Dengan kondisi surplus memungkinkan ekspansi pasar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri,”tambah Andi.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *