PravadaNews – Kepala wilayah Donetsk yang ditunjuk Rusia, Denis Pushilin, mengatakan sebuah drone menghantam bus yang sedang melaju antara Moskow dan Simferopol.
Setidaknya delapan orang tewas dan 10 lainnya luka-luka setelah sebuah drone menghantam bus di wilayah Donetsk, Ukraina, yang dikuasai Rusia.
Denis Pushilin, mengatakan di platform pesan Telegram pada hari Rabu bahwa bus tersebut sedang melakukan perjalanan antara Moskow dan Simferopol di Crimea.
Sementara itu, gubernur St. Petersburg mengatakan drone Ukraina menghantam infrastruktur di beberapa distrik, menyebabkan kerusakan dan melukai beberapa orang, bersamaan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang sedang menjamu forum ekonomi “Davos Rusia” di kota tersebut.
Serangan ini terjadi sehari setelah rentetan rudal dan drone Rusia menewaskan 23 orang di seluruh Ukraina, saat pertempuran terus berlanjut tanpa akhir yang jelas.
Pada hari Rabu pagi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, fasilitas penting di wilayah Rusia telah dihantam tadi malam.
“Di antaranya adalah Terminal Minyak Petersburg. Jarak dari perbatasan negara Ukraina ke fasilitas industri minyak Rusia ini, yang melayani perang, adalah sekitar 1.100 kilometer. Target militer murni di pangkalan Kronstadt juga berhasil dihantam,” kata Zelenskyy dikutip Al Jazeera, Jumat (5/6/2026)
“Target lainnya adalah sebuah perusahaan di wilayah Tambov yang terlibat dalam produksi senjata Rusia. Jaraknya dari garis depan hampir 600 kilometer,” tambahnya.
Ketika ditanya tentang serangan di St. Petersburg, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan tanggapan Rusia terhadap serangan tersebut akan bersifat “sistemik”, seperti dilaporkan oleh kantor berita Rusia, Ria Novosti.
“Secara keseluruhan, saya dapat mengatakan bahwa operasi militer khusus sedang berlangsung untuk mencegah serangan semacam itu,” kata Peskov kepada wartawan.
Menurut Gubernur Leningrad Alexander Drozdenko, pada hari Rabu pagi, 50 drone telah ditembak jatuh di wilayah tersebut dalam semalam, dan upaya untuk menghalau serangan yang dicurigai masih terus berlanjut.
Drone juga menghantam kota Michurinsk di wilayah Tambov, Rusia tengah, kata Gubernur Yevgeny Pervyshov, seraya menambahkan bahwa bangunan penunjang di sebuah fasilitas industri, sebuah gedung apartemen, dan sebuah perpustakaan mengalami kerusakan.
Militer Ukraina juga menyatakan bahwa mereka telah menghantam sebuah kapal perang di pangkalan Armada Baltik Rusia semalam, yang menyebabkan kebakaran di atas kapal korvet Boikiy.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa semalam, 354 drone Ukraina berhasil “dicegat dan dihancurkan” di beberapa wilayah.
Melaporkan dari St. Petersburg, Yulia Shapovalova dari Al Jazeera mengatakan bahwa 59 drone ditembak jatuh, menghantam beberapa distrik dan mengakibatkan kebakaran di sebuah terminal minyak di distrik Kirovsky di bagian barat kota tersebut.
“Fasilitas ini adalah salah satu terminal terbesar di wilayah tersebut. Pembatasan penerbangan diberlakukan beberapa kali di bandara Pulkovo yang berada di dekatnya. Sekitar 20 penerbangan mengalami penundaan,” kata Shapovalova.
“Dilaporkan bahwa serangan tersebut datang dari pihak Ukraina sebagai aksi balas dendam atas beberapa serangan baru-baru ini di Kyiv, Dnipro, dan kota-coota Ukraina lainnya.”
Otoritas Ukraina melaporkan bahwa serangan drone Rusia menewaskan seorang wanita di wilayah Kherson selatan.
Gelombang serangan Rusia ini terjadi sehari setelah angkatan udara Ukraina melaporkan bahwa Moskow telah meluncurkan 656 drone sepanjang malam hingga Selasa pagi.
Menurut angkatan udara, 54 drone dan 33 rudal berhasil menembus sistem pertahanan udara berlapis milik mereka. Setidaknya 23 orang tewas dalam serangan tersebut, menurut otoritas setempat.
Rusia mengatakan rentetan serangannya pada hari Selasa merupakan tanggapan atas serangan mematikan di sebuah asrama di wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia dua minggu lalu.
Sementara itu, Kepala NATO Mark Rutte tiba di Kyiv pada hari Rabu untuk kunjungan mendadak yang tidak diumumkan, menyusul rentetan serangan Rusia tersebut.
Setelah kedatangannya, Rutte mengatakan bahwa Rusia semakin putus asa karena menghadapi kesulitan militer dan ekonomi saat menjalankan invasinya di Ukraina.
“Kecerobohan Rusia bukanlah hal baru. Namun, seiring dengan Ukraina yang terus berdiri teguh, berinovasi, dan meraih keuntungan di medan perang, Rusia menjadi semakin putus asa,” kata Rutte dalam konferensi pers bersama Zelenskyy di Kyiv.
Di sisi lain, Zelenskyy memuji serangan semalam yang dilakukan pasukannya di St. Petersburg sebagai tanggapan yang “adil” terhadap serangan Rusia di negaranya, dan mengancam akan semakin meningkatkan intensitas serangan balasan Kyiv.
“Saya percaya ini adalah serangan yang adil. Baru sehari yang lalu, terjadi serangan besar-besaran. Kami merespons dengan semestinya,” kata Zelenskyy.














