Peternakan ayam petelur di Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Gunung Sindur. 

Beranda / Ekonomi / Harga Acuan Telur Rp24.000/Kg belum Tentu Cocok untuk Semua Daerah

Harga Acuan Telur Rp24.000/Kg belum Tentu Cocok untuk Semua Daerah

PravadaNews – Pemerintah menetapkan harga acuan minimum telur ayam ras sebesar Rp24.000 per kilogram yang mulai berlaku pada 15 Juli 2026. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.

Selain telur ayam ras, pemerintah juga menetapkan harga acuan minimum ayam pedaging hidup atau live bird sebesar Rp19.500 per kilogram di pertengahan Juli 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas penurunan harga yang dialami peternak.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak dan konsumen. Menurutnya, harga pangan tidak boleh terlalu tinggi maupun terlalu rendah.

“Kita hidup dalam satu atap, Indonesia. Tidak boleh ada yang dirugikan. Peternaknya harus untung, tetapi konsumennya juga tidak boleh dirugikan,” ujar Sudaryono dalam keterangan resmi, Senin (6/7/2026).

Pemerintah berharap kebijakan tersebut mampu memberikan kepastian usaha bagi peternak. Di sisi lain, harga pangan bagi masyarakat tetap dijaga agar tetap terjangkau.

Namun, peternak ayam petelur Kiki (29 tahun) menilai penerapan satu harga acuan di seluruh Indonesia akan sulit dilakukan. Ia menyebut biaya produksi setiap daerah memiliki perbedaan.

“Tapi ya pemerintah kayanya gak bisa menetapkan harga segitu untuk berlaku di seluruh Indonesia. Karena biaya produksi setiap peternak itu beda-beda,” kata Kiki kepada PravadaNews, Rabu (8/7).

Menurut Kiki, harga telur di peternakannya saat ini berada di kisaran Rp22.000 per kilogram. Harga tersebut turun dibandingkan saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih berjalan.

Kiki mengatakan, berhentinya pelaksanaan MBG ikut memengaruhi permintaan telur. Pada saat yang sama, daya beli masyarakat melemah sementara stok telur di pasaran melimpah.

Kondisi tersebut membuat harga telur terus mengalami tekanan. Kiki memperkirakan harga bisa kembali naik apabila program MBG kembali berjalan.

“Nanti kalo MBG jalan mungkin bisa naik ke Rp26.000-27.000 per kilogram,” ujar Kiki.

Sebagai peternak, Kiki mengaku menginginkan harga jual yang lebih tinggi agar memperoleh margin usaha yang lebih besar. Menurutnya, menjual telur di harga Rp24.000 per kilogram masih memberikan keuntungan yang relatif tipis.

“Kalo kita sih sebagai peternak ya pengennya harganya tinggi ya. Jadi marginnya lebih besar.  Kalo harus jual Rp24.000/kg ya kita sih bisa aja, tapi tipis banget untungnya. Harapannya sih bisa jual lebih dari itu. Tapi ya tergantung dengan kondisi masyarakatnya,” kata Kiki.

Kiki mengelola usaha peternakan ayam petelur bersama Syafei sejak 2012 setelah Syafei pensiun dari pekerjaannya di sebuah pabrik manufaktur. Selain beternak ayam petelur, mereka juga membudidayakan ikan patin dan lele di kolam yang berada di bawah kandang ayam.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *