Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Harga Beras Naik Saat Stok Nasional Disebut Aman

Harga Beras Naik Saat Stok Nasional Disebut Aman

PravadaNews – Di tengah kenaikan harga beras di sejumlah daerah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut stok nasional masih berada pada level aman dengan jumlah mencapai 25–26 juta ton.

Amran mengatakan, jumlah tersebut berasal dari produksi dalam negeri, cadangan beras Bulog sekitar 5 juta ton, serta ketersediaan beras dari hotel, rumah makan, dan restoran yang mencapai lebih dari 10 juta ton.

Menurutnya, kondisi pasokan ini didukung oleh berbagai langkah antisipasi produksi setelah pemerintah menghadapi ancaman El Nino ekstrem melalui pembangunan irigasi, embung, pompa air, optimalisasi sawah dan rawa, serta pencetakan sawah.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat standing crop mencapai 3,8 juta ton dengan estimasi produksi 10 juta ton. Sementara itu, kebutuhan beras nasional berada pada kisaran 2,5–2,6 juta ton per bulan.

Meski stok disebut mencukupi, Kementan tetap menjaga harga beras agar tidak merugikan petani maupun meningkatkan beban masyarakat sebagai konsumen.

“Kita harus menjaga kedua belah pihak. Harga di tingkat petani kita jaga agar tidak turun drastis, sementara harga untuk 286 juta konsumen juga kita jaga agar tidak terlalu tinggi,” ujar Amran saat ditemui di Kementan, Jakarta, dikutip Kamis (17/9/2026).

Pemerintah, jelas Amran, telah menyalurkan bantuan pangan kepada 33,4 juta rumah tangga serta menambah alokasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton untuk menjaga ketersediaan di pasar.

Adapun Kementan juga mengevaluasi penyebab kenaikan harga beras karena sebelumnya komoditas tersebut tidak menjadi penyumbang inflasi.

“Stok kita sangat aman. Bukan saja aman, tetapi kita juga sudah melakukan ekspor ke Malaysia,” tutur Amran.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beras menjadi salah satu komoditas yang memengaruhi kelompok harga bergejolak pada Agustus 2026 bersama daging ayam ras dan cabai rawit.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan komoditas pangan dalam kelompok ini sensitif terhadap perubahan cuaca serta kondisi distribusi antarwilayah.

“Kalau kita mencermati yang volatile, ternyata di sini disebabkan oleh tiga komoditi. Di bulan Agustus, daging ayam ras, cabai rawit, dan juga beras,” ujar Ateng dalam rapat koordinasi inflasi daerah, Senin (14/9) lalu.

BPS melaporkan kenaikan harga beras masih terjadi pada beberapa wilayah, dengan kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras medium sebesar 0,67% dan beras premium sebesar 0,60% hingga pemantauan minggu kedua September 2026. 

Pemantauan BPS juga menunjukkan sebanyak 135 kabupaten/kota mengalami peningkatan IPH beras, meskipun tingkat kenaikan berbeda antarwilayah. 

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *