PravadaNews – Tidak semua pemain asing mampu bertahan lama di kerasnya persaingan sepak bola Indonesia.
Namun, bagi Igor Rodrigues, musim demi musim bersama Persita Tangerang bukan sekadar perjalanan profesional di bawah mistar gawang, melainkan proses panjang untuk menemukan tempat, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan ikatan dengan klub yang dibelanya.
Memasuki musim ketiganya bersama Pendekar Cisadane, kiper asal Portugal itu kini bukan lagi sekadar pemain asing yang datang untuk singgah, tetapi sosok yang semakin akrab dengan atmosfer sepak bola Tanah Air.
Perjalanan tersebut tentu tidak terbentuk dalam semalam. Di balik penampilannya di lapangan, Igor harus melewati proses adaptasi yang jauh melampaui taktik, strategi, dan tuntutan fisik.
Igor juga dituntut memahami karakter permainan, atmosfer kompetisi, serta budaya sepak bola Indonesia yang memiliki dinamika tersendiri.
Kini, musim ketiganya menjadi babak penting bagi Igor untuk memperkuat perannya bersama Persita sekaligus membuktikan, kesetiaan dan proses adaptasi dapat mengubah seorang pemain asing menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sebuah klub.
“Ya, ada empat nama dan semuanya memiliki karakter yang berbeda,” kata Igor dikutip dari laman Persita, Sabtu (17/10/2026).
Pelatih pertama yang disebut Igor adalah Felipe yang sudah hampir delapan tahun berada di Indonesia.
“Dia pelatih yang sangat hebat dan pribadi yang sangat baik. Ia sangat memahami kondisi sepak bola dan kehidupan di sini,” ujar Igor.
Musim lalu, Igor bekerja bersama Benyamin Van Breukelen dan Kurniawan Sandi yang sangat paham seluk-beluk sepak bola Indonesia.
“Mereka banyak membantu saya memahami budaya di sini,” ucap Igor.
Kini pada musim ketiganya, Igor bekerja bersama Raden Muhammad Sabilillahi yang digambarkannya sebagai perpaduan pendekatan para pelatih sebelumnya.
“Jadi, saya sangat senang bekerja dengannya dan dengan semua pelatih yang ada di sini,” kata Igor.
Cerita Igor menunjukkan sisi penting dalam perkembangan seorang penjaga gawang, di mana berganti-ganti pelatih justru memperkaya pengalaman.
Setiap pelatih membawa sudut pandang, metode, dan pengalaman berbeda, mulai dari pemahaman situasi sepak bola Indonesia hingga kedekatan dengan budayanya.
Di musim ketiga ini, Igor tidak lagi berada pada fase beradaptasi dan membawa bekal dari empat pelatih sekaligus.
Modal tersebut bisa menjadi pembeda saat Persita menjalani musim yang panjang di BRI Super League 2026/27.















