PravadaNews – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menugaskan Perum Bulog menyalurkan tambahan 150 ribu ton jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) paling lambat 23 November 2026.
Penugasan tersebut terbit pada Selasa (20/10/2026) ketika penyaluran jagung tahap pertama belum sepenuhnya selesai. Pemerintah memprioritaskan peternak unggas skala mikro sebagai penerima tambahan pasokan ini.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan perusahaan mempercepat penyelesaian tahap pertama bersamaan dengan pelaksanaan tahap kedua.
Bulog juga berupaya memastikan jagung disalurkan kepada peternak yang menjadi sasaran program.
“Bulog berkomitmen memastikan penyaluran SPHP jagung berjalan optimal dan tepat sasaran. Kami terus mempercepat penyelesaian sisa penyaluran SPHP jagung tahap pertama, sekaligus menjalankan tambahan penugasan tahap kedua sebanyak 150 ribu ton yang mulai disalurkan hari ini,” tutur Rizal, Kamis (22/10).
Berdasarkan keterangan Bulog dua hari lalu, realisasi penyaluran SPHP jagung tahap pertama telah mencapai 84,43%. Sebelumnya, realisasi pada Rabu (14/10) tercatat 159,32 ribu ton atau 66,05% dari target 241,2 ribu ton.
Sementara itu, Bapanas mencatat sebanyak 11.677 peternak telah mengakses jagung SPHP melalui 151 koperasi atau asosiasi di 29 provinsi. Jumlah tersebut menjadi penerima dari penyaluran sebelumnya, bukan daftar penerima tambahan 150 ribu ton.
Adapun penyaluran dilakukan melalui koperasi atau asosiasi kepada peternak yang terdaftar dalam Surat Keputusan (SK) Kementerian Pertanian (Kementan). Harga jagung ditetapkan Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 per kilogram sampai ke peternak.
Untuk memperlancar distribusi, Rizal sebelumnya menyampaikan koordinasi Bulog dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT ASDP Indonesia Ferry pada Jumat (9/10). Koordinasi ini ditujukan untuk mempercepat bongkar muat dan pengiriman jagung ke berbagai daerah.
Dalam hari yang sama, perwakilan PPN Koperasi Lampung, Kasmani, menyebut stok jagung Bulog di Lampung telah melebihi 5.000 ton. Pasokan itu dinilai mencukupi kebutuhan sekitar 100 peternak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Meski pasokan di Lampung mencukupi, Kasmani turut menyoroti kebutuhan peternak di wilayah lain.
Perhatian itu, lanjutnya, terutama ditujukan kepada daerah yang sebelumnya mengalami kekurangan jagung.
“Untuk Lampung, stok jagung Bulog sekitar 5.000 ton lebih dan sudah mencukupi kebutuhan peternak UMKM. Namun, yang kami pikirkan adalah peternak di seluruh Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sebelumnya masih mengalami kekurangan jagung,” ungkap Kasmani dalam keterangan Kementan.
Selain ketersediaan pasokan, Kasmani mengungkaokan harga jagung di pasar Lampung saat itu berkisar Rp8.000 hingga Rp8.400 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan jagung SPHP yang ditetapkan maksimal Rp5.500 per kilogram sampai tingkat peternak.
Karena kebutuhan pakan terus berlangsung, Kasmani berharap penyaluran SPHP berlanjut agar peternak dapat mempertahankan usaha hingga Februari 2027.














