PravadaNews – Di tengah dinamika pasar modal yang diwarnai tarik-menarik antara optimisme penguatan indeks dan tekanan aksi jual investor asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menyimpan peluang untuk melanjutkan tren positif pada perdagangan Jumat (23/10/2026).
Kenaikan indeks sebesar 1,12 persen ke level 5.387,90 pada penutupan perdagangan Kamis kemarin menjadi sinyal positif bagi pergerakan pasar, meski di balik penguatan tersebut, arus modal asing justru masih menunjukkan tekanan signifikan.
Aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,47 triliun menjadi perhatian tersendiri, terutama ketika sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, TLKM, BBRI, BRIS, dan ASII menjadi sasaran pelepasan kepemilikan.
Kondisi ini menghadirkan dinamika menarik bagi pelaku pasar. mampukah IHSG mempertahankan momentum penguatan di tengah derasnya arus jual asing, atau justru tekanan tersebut akan membayangi pergerakan indeks pada perdagangan hari ini?
“IHSG telah mengalami ‘rebound’ selama tiga hari berturut-turut. Investor perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung pada akhir pekan, di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” sebut Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Tim Phintraco lebih lanjut mengatakan, secara teknikal, hari ini IHSG berpeluang menguji level resistance 5,400.
Jika bertahan di atas level tersebut, IHSG berpotensi untuk melanjutkan penguatan.
“Sedangkan level 5,300 menjadi level support terdekat untuk menjaga momentum positif dan mengantisipasi potensi tekanan jual. Jika menembus level tersebut, IHSG berpotensi menguji level support berikutnya di 5.180-5.200,” sebut Tim Phintraco lagi.
Menurut Tim Phintraco, kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Kondisi ini meningkatkan risiko suku bunga BI dan the Fed bertahan tinggi atau kembali naik.
Kondisi itu, lanjut Tim Phintraco, berpotensi menekan pasar saham dan obligasi serta akan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, sektor energi, khususnya minyak dan gas, berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak.
Harga minyak Brent naik 4 persen pada Kamis kemarin ke level USD113 per barel.
Sementara itu, sektor batu bara dapat memperoleh sentimen positif dari meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.














