PravadaNews – Jarak yang jauh dan biaya perjalanan antara Indonesia dan Amerika Latin mendorong pemerintah Indonesia mendatangi calon mitra usaha di Chile melalui strategi jemput bola.
Hal ini diungkap Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Zelda Wulan Kartika yang mengatakan kawasan Amerika dan Eropa merupakan pasar strategis bagi produk Indonesia. Perdagangan Indonesia dan Chile sendiri mencapai US$277,4 juta pada Januari–Juni 2026.
Strategi tersebut dilakukan karena tidak semua calon mitra dari Amerika Latin dapat datang langsung ke Indonesia.
“Kita juga melakukan strategi jemput bola, contohnya adalah bisnis forum kita yang diselenggarakan di Chile tahun ini, karena kita ingin menjangkau mereka secara langsung jika mereka tidak bisa datang ke sini,” kata Zelda saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, dikutip Minggu (4/10/2026).
Melalui forum bisnis, pelaku usaha dapat bertemu langsung dengan calon pembeli atau buyer. Pertemuan itu juga menjadi ruang untuk mengetahui kebutuhan produk dan aturan di negara tujuan.
Zelda menjelaskan, forum ini dirancang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra yang sesuai.
“Forum bisnis ini bisa menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan mitra atau calon mitranya,” ucap Zelda.
Selain menggelar forum bisnis, Kemenlu dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri membantu pelaku usaha mempromosikan produknya. Dukungan juga diberikan melalui informasi peluang dan karakter pasar di negara tujuan.
Pola serupa diterapkan menjelang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Perwakilan RI mengkurasi calon pembeli sebelum mempertemukan mereka dengan pelaku usaha melalui business matching, forum bisnis, dan kunjungan lapangan.
Untuk kawasan Amerika dan Eropa, Zelda menyebut TEI 2026 akan menghadirkan empat forum bisnis. Forum tersebut menyasar Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, serta kawasan Eropa.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fajarini Puntodewi mengungkapkan TEI 2026 akan berlangsung pada 14–18 Oktober di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.
TEI, lenjutnya, dapat digunakan eksportir untuk mencari negara tujuan baru tanpa harus lebih dahulu mendatangi berbagai pasar di luar negeri.
“Bagi para eksportir yang memang sudah memiliki committed business, ini juga menjadi kesempatan untuk memperluas pasarnya,” tutur Fajarini.
Sebagai catatan, Kemendag menargetkan TEI 2026 diikuti sekitar 1.500 peserta pameran dan 30.000 pengunjung dengan potensi transaksi US$17,5 miliar. Hingga akhir September, sebanyak 6.597 pembeli dari 113 negara telah terdaftar.
Untuk memperbesar peluang transaksi, Kemendag menjalankan penjajakan bisnis sebelum pameran atau pre-business matching. Peserta juga difasilitasi mengikuti presentasi bisnis agar pertemuan dengan pembeli saat TEI lebih terarah.















